Connect with us

Mantra Menangkap Ikan Terbang di Tanah Mandar

Ilustrasi / foto: pexels.com

Seni Budaya

Mantra Menangkap Ikan Terbang di Tanah Mandar

Menurut kepercayaan nelayan Mandar, mantra merupakan seremoni yang wajib dalam menangkap ikan terbang (tui-tuing). Mereka percaya bahwa mantra adalah suatu sarana pendukung untuk memaksimalkan hasil tangkapan.

Ikan terbang (exocoetidae) yang bagi masyarakat Mandar lebih dikenal dengan sebutan ikan tuing tuing (tui-tuing) adalah salah satu makan khas masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. Ikan ini biasanya diolah dengan diasap dan disajikan dengan sambal khas tomat Mandar. Tapi tahukah anda bahwa masyarakat Mandar menangkap ikan ini dengan meneriakkan mantra yang  berbau porno?

Menurut kepercayaan nelayan Mandar, mantra merupakan seremoni yang wajib dalam menangkap ikan terbang (tui-tuing). Mereka percaya bahwa mantra adalah suatu sarana pendukung untuk memaksimalkan hasil tangkapan. Kepercayaan ini sudah berlangsung secara turun-temurung, bahkan sampai sekarang.

Mai nasammo’o sirumung, dinimi tu’u ganrammu nitannang—Gasa’mi tama ganrang sossorammu daeng, Irappang bulu ipui butir, itomaressaq malolo…

Seperti itulah penggalan kalimat dalam bahasa Mandar yang bagi nelayan Mandar adalah mantra untuk menggiring ikan terbang (tui-tuing) masuk ke dalam buaro (sejenis bubu). Potongan kalimat ini memang sepintas tak memiliki arti, tapi dalam bahasa sehari-hari masyarakat Mandar, kalimat ini sangat tidak senonoh (berbau porno). yang kira-kira berarti

“Datanglah semua berkumpul disini, disinilah gendangmu terpasang—hantamlah masuk, gendang pusakamu, Daeng (sapaan untuk kaum bangsawan), yang berbulu lebat ipui (alat kelamin wanitabutir (buah-buahan yang berbentuk seperti alat kelamin perempuan), yang cantik penuh lendir…”

Sebenarnya bila diperhatikan, mantra ini sebenarnya sebuah kalimat pernyemangat yang diserukan kepada ikan terbang (tui-tuing) untuk melakukan perkawinan. Dimana buaro (bubu) sebagai alat tangkap digambarkan sebagi alat kelamin perempuan sedangkan ikan terbang (tui-tuing) diibaratkan sebagai seorang Daeng (raja).


Referensi: Mandra, A. M.2012.Ditirakaqna Alang.Makassar:Kretakupa Print

Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!