Connect with us

Pattora’: Salah Satu Bukti Budaya Gotong Royong di Tanah Mandar

Ilustrasi Pattora' / Oleh: Aswad

Seni Budaya

Pattora’: Salah Satu Bukti Budaya Gotong Royong di Tanah Mandar

Bagaimana masyarakat Mandar mengelola lahan pertanian yang luas dengan peralatan tradisional?

Semester ini saya mengambil sebuah mata kuliah pilihan dari Jurusan Desain Produk (DP) yaitu Desain Kriya. Hari pertama ikut kuliah, Dosen banyak menjelaskan tentang sejarah kriya dan seperti apa manusia belajar dari alam dan mulai membuat peralatan untuk membantu dalam menyelesaikan pekerjaan manusia. Yang menurut saya menarik dan membuat saya mulai berpikir  jauh sampai ke kampung adalah kata-kata dosen saya yang mengatkan bahwa…

“…artefak itu melambangkan budaya masyarakat yang membuatnya.”

*menurut KBBI, Artefak adalah benda (barang-barang) hasil kecerdasan manusia, seperti perkakas dan senjata.

Dari penjelasan ini saya mulai berpikir tentang pattora’—salah satu alat pertanian tradisional masyarakat mandar, utamnya yang tinggal di daerah Majene—yang menurut saya kemungkinan perancangannya berdasarkan pada budaya gotong royong dalam masyarakat mandar saat itu.

Pattora’

Foto koleksi Pattora’ (sebelah kiri) museum Mandar Majene / Foto: Aswad

Pattora secara sederhana dapat digambarkan seperti sebuah linggis yang besar dengan batang yang terbuat dari kayu yang kuat dan dilengkapi dengan pijakan kaki yang berbentuk tangkai dari kayu yang diikat ke bagian batang. Jenis pengikat yang digunakan bermacam-macam, namun pada umumnya menggunakan rotan.

Cara penggunaan pattora’ adalah dengan menusukkannya ke dalam tanah, kemudian memperdalamnya dengan cara menginjak pada pijakan kaki lalu menuasnya hingga membentuk bongkahan tanah yang besar dan membaliknya.

Pattora’ digunakan untuk menggemburkan tanah dengan cara membalikkan tanah—dalam bentuk gumpalan yang besar. Petani di Mandar percaya, bahwa lahan—seperti kebun singkong—yang telah dipanen telah berkurang kesuburannya. Sehingga untuk membuat kembali subur harus digeburkan dengan cara ditora’.

Pattora’ dan Kondisi Alam di Mandar

Di Mandar, utamanya di beberapa wilayah di Kabupaten Majene memiliki struktur tanah yang keras. Struktur tanah yang keras dan agak kering ini biasanya dimanfaatkan masyarkat mandar untuk menanam singkong yang merupakan bahan utama untuk jepa—makanan khas mandar dan pokok bagi orang dulu di mandar.

Untuk dapat mattora’ atau menggarap lahan dengan pattora’ dengan struktur tanah yang keras seperti ini tentu saja tidak dapat dilakukan seorang diri—atau harus dilakukan secara berkelompok—karena akan sangat sulit membuat tanah dalam bongkahan yang besar dan membalikkan seorang diri dengan cara menuasnya menggunakan pattora’.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa pattora’ tidak diciptakan oleh masyarkat mandar untuk digunakan sendirian dalam menggarap lahan, melainkan harus digunakan secara bergotong royong.

Tapi bagaimana jika semua petani di Mandar, memiliki lahan sendiri untuk digarap dan harus digarap pada waktu sama? Siapa yang akan membantu siapa?

Siallo-alloang dalam menggarap lahan

Misal disebuah lingkungan tempat tinggal di Mandar terdapat lima petani yang masing-masing memiliki lahan yang akan digarap pada musim tanam. Bagimana cara petain-petani menggarap lahan mereka dengan pattora jika mattora’ (menggarap dengan pattora’) tidak dapat dilakukan sendiri?

Jawabannya adalah dengan cara siallo-alloang.

Siallo-alloang adalah sebuah perjanjian kerjasama dalam menggarap lahan dimana semua anggota akan saling bergotong royong menggarap lahan anggota dengan cara digilir setiap harinya.

Misalnya saja lima petani—sebut saja si A, B, C, D, dan E—yang telah dicontohkan sebelumnya berjanji sialo-alloang. Maka setiap harinya lima orang ini akan gotong royong dalam menggarap lahan salah satu anggota, misal hari pertama lahan si A, hari kedua si B, dan seterusnya secara bergantian sesuai dengan kesepakatan. Setiap harinya, si pemilik lahan yang garap juga harus menyiapkan makanan.

Dengan cara gotong royong seperti ini maka sangat mungkin penggarapan lahan dengan pattora’ dapat dilakukan dengan cepat.

Siallo-allong jika dilihat dari kata allo (matahari) juga dapat diartikan bekerja bersama-sama di bawah terik matahari.

****

Catatan: Penulis bukan ahli budaya atau apapun, jadi semua yang saya tulis di atas murni hanya pandangan pribadi saja. Terimakasih, semoga bermanfaat.

Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!