Connect with us

Belajar dari Film “The Book Thief”

Liesel membaca untuk Max / Foto: popculture-y.com

Hidup

Belajar dari Film “The Book Thief”

“Satu fakta kecil, kamu akan mati. Meski dengan segala upaya, tidak ada orang yang hidup selamanya. Maaf karena sedikit spoiler. Saran saya ketika waktu itu datang, jagan panik. Itu sepertinya tidak membantu.”–Kematian, The Book Thief

Hari ini saya baru saja menonton film The Book Thief (2013). Film yang memang sudah lama, tapi baru saya tonton hari ini. Maklum dari daerah.

Tenang, buat kamu yang juga belum nonton, disini saya tidak akan membahas jalan cerita filmnya seperti apa. Jadi tidak akan spoiler. Di sini saya hanya akan berbagi apa yang saya pelajari dari film The Book Thief ini.

Tulisan sebagai ingatan yang tak pernah mati

Dari judulnya filmnya saja, “The Book Thief” yang artinya “Pencuri Buku”, film ini banyak bercerita tentang buku. Mulai dari belajar membaca dan menulis.

Dalam film ini, Max selalu menekankan pada Liesel (si pencuri buku) tentang pentingnya menulis. Max sekali berkata,

“Ingatan adalah tulisan jiwa.”Max, The Book Thief

Sangat jelas jika Max ingin menekankan pentingnya tulisan dengan membandingkannya dengan ingatan. Manusia yang hidup (punya jiwa) tapi tidak punya ingatan sama halnya dengan mayat hidup.

Tulisan adalah ingatan atau memori yang kita buat yang tidak akan mati. Bahkan jika kita (penulisnya) mati, tulisan-tulisan itu akan tetap hidup. Itulah yang menurut saya ingin ditekankan Max dalam film The Book Thief ini. Bahwa tulisan adalah ingatan manusia yang tidak akan pernah mati.

Jika membandingkannya dengan kondisi saat ini, tulisan sebagai ingatan yang tidak pernah mati, tidak terbatas pada tulisan semata, seperti buku dan catatan harian. Tapi juga termasuk foto dan video. Foto dan video juga dapat menjadi ingatan yang tidak pernah mati.

Kematian itu dekat

Pelajaran kedua yang dapatkan dalam film ini yaitu tentang kematian. Film The Book Thief ini dari awal sampai akhir sebenarnya bercerita tentang kematian. Film dibuka dengan suara narator sebagai kematian.

Dalam film ini kematian selalu digambarkan sangat dekat. Kematian bisa menjeputmu kapan saja dan dimana saja, termasuk di tempat tidurmu. Kematian kemudian semakin berwujud dengan pecahnya peperangan, bom-bom yang berjatuhan dari langit, dan penangkapan kaum-kaum yahudi.

Sangat jelas film ini ingin menunjukkan dekatnya kematian itu. Bahkan narator sebagai kematian dalam film ini menekankan bahwa kita semua akan mati, tidak ada yang hidup selamanya bahkan apapun yang kamu lakukan. Ia menyarankan untuk jangan panik jika waktu (kematian) itu datang, karena itu sama sekali tidak membantu.

Kesimpulan

Menulislah karena tulisan akan menjadi ingatanmu yang tak akan pernah mati, bahkan jika kamu mati. Kita semua akan mati, kita hanya tidak tau kapan dan dimana itu akan terjadi. Tapi jika waktu itu datang, jangan panik, karena itu tidak akan berarti dan tidak membantu sama sekali.

Baca Selengkapnya
Musyrifah

Guru, Wali Kelas, dan penenton setia Drakor.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!