Connect with us

Cerpen: Hidup Bermanfaat

Ilustrasi / foto: pexels.com

Cerpen

Cerpen: Hidup Bermanfaat

Hidup tak berguna memang tiada guna. Tetapi mati dengan cara yang bodoh hanya akan menambah beban orang-orang dekatmu.

“Iya Kak, ini Tulung sedang mengerjakan revisi skripsi yang sudah beberapa kali ku perbaiki tapi tetap saja salah di mata pembimbing ku. Tulung juga tak berharap berlama-lama di kota ini, tidak ada gunanya, hanya menghabiskan uang dan waktu. Andai Tulung bisa berhenti saja, mungkin akan lebih baik. Tapi Tulung tau Ayah dan Ibu harapannya seperti apa.”

Tulung berusaha menjelaskan kepada Kakaknya yang mulai ragu kepada Tulung. Ia menjelaskan bahwa ia serius mengerjakan skripsi selama beberapa tahun ini tepi memang mungkin sudah takdirnya terlambat lulus.

“Aku hanya bisa berdo’a, Tulung bisa segera wisuda dan kembali ke daerah” Kata Kakak Tulung dari seberang telepon dengan nada sendu.

Tulung tak menanggapinya lagi, ia hanya menitip salam kepada orang tuanya dan memintanya bersabar.

****

Sejak ia mengerti tentang tujuan hidup, ia selalu menyelipkan kata “bermanfaat’ dalam do’anya. Tulung selalu berharap dapat menjadi orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Semenjak hari itu ia sadar, ia sangat senang dan puas jika dapat menolong orang lain. Sayang, ia terlau pemalu untuk menawarkan bantuan kepada orang lain lebih dahulu.

Sebagai orang yang pemalu dan tak ingin terlalu menonjol di masyarakat, Tulung menyimpan impiannya hanya untuk dirinya sendiri. Hingga suatu saat ia menemukan seseorang yang dianggapnya dapat mendengarkan semua impian hidupnya. Ia yakin gadis ini tak akan menertawakannya jika mengetahui tujuan hidupnya yang sok mulia itu.

Gadis itu, Luti, bukan gadis yang baru di kenal Tulung, mereka sekelas ketika masih SMP dan sempat saling jatuh hati dan menyebut diri mereka berpacaran sampai beberapa saat setelah lulus SMP. Sehingga ia sangat yakin, Gadis itu bisa menjadi tempat ia berbagi tentang mimpi-mimpinya dan bahkan berharap bisa menjadi orang yang selalu membantu dan mengingatkannya.

“Bukan cinta yang membawa kita ke sini, tapi mimpi. Dan mungkin mimpi pula yang akan memisahkan kita.” Kata Tulung membuka pembicaraan dengan Luti. Sore ini mereka sedang duduk bersama di atas tebing di samping jalan yang meliuk mengelilingi pegunungan yang berada di belakang kampung.

Tempat ini merupakan tempat favorit Tulung dan Luti menghabiskan waktu, bercerita tentang mimpi-mimpi mereka, sambil memandangi gunung-gunung yang seperti gelombang di kejauhan, hamparan langit dengan awan-awan bergelantungan, dan petani dengan aktivitas mereka masing-masing.

“Apa maksudmu berkata begitu?” Tanya Luti.

“Tidak, aku hanya merasa bahwa mimpi dan harapanlah yang membawa ku kesini, membuatku melakukan apa yang ku lakukan.”

Luti hanya mengerutkan dahi, masih tidak mengerti perkataan Tulung.

“Sudahlah…” Kata Tulung kemudian melanjutkan.

Seperti biasa, lama mereka hanya duduk di situ, menunggu matahari yang perlahan turun bersembunyi di balik pegunungan, sambil menatap gembala-gembala mencari makan, dan petani yang sibuk dengan kebunnya. Luti hanya slonjoran, bermain dengan sebatang ilalang di tangannya. Tulung yang duduk bersila dengan kedua tangannya bertumpu ke belakang sambil menatap ke atas langit menyaksikan awan-awan yang saling berkejaran.

“Aku sangat ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, membantu mereka agar bisa hidup lebih baik. Jika aku tidak dapat membantu mereka dengan uang yang ku miliki, mungkin aku bisa membantu mereka dengan ilmu yang ku miliki nanti.” Kata Tulung mencoba mencoba berbagi mimpinya kepada Luti.

Luti mengalihkan pandangannya kepada Tulung, menatap dengan serius ke wajah Tulung.

Tulung berhenti menatap langit lalu kemudian menatap mata Luti dalam-dalam sambil berkata, “Aku ingin merantau, kuliah menuntut ilmu, tidak hanya di sini. Mungkin dengan itu aku bisa menjadi orang yang bermanfaat.”

“Aku percaya kamu bisa. Kamu tidak usah ragu.” Kata Luti singkat menanggapi. Ia memang bukan orang yang pintar berkata-kata. Tapi ia sangat sungguh-sungguh mendukung keinginan Tulung.

Semenjak hari itu, Tulung diam-diam mencari tau informasi untuk dapat kuliah dengan beasiswa di Yogyakarta. Ia ingin menjadi dokter, agar bisa membantu mengobati orang-orang di kampungnya. Luti juga semenjak hari itu selalu menyelipkan Tulung dalam do’anya, berharap apa yang diimpikan tulung dapat terwujud. Luti sangat yakin bahwa Tulung akan menjadi orang yang besar dan hebat. Tidak ada satu orang pun yang melebihi keyakinan Luti kepada Tulung, bahkan Tulung sendiri.

Tujuh tahun telah berlalu, Tulung yang dulu ingin kuliah di jurusan kedokteran UGM, Yogyakarta, agar dapat bermanfaat bagi orang lain, sudah seharusnya lulus dan wisuda satu setengah tahun yang lalu bersama teman-teman sejurusannya. Seharusnya kini ia telah menyelesaikan pendidikan profesinya dan sudah mengabdikan dirinya sebagai dokter yang hebat di kampung halamannya di Sulawesi.

Waktu terus berjalan, apa yang dulu dilihatnya indah kini berubah menjadi mimpi buruk. Semua teman-temannya sudah menjadi dokter, hanya dirinya yang tersisa, belum lulus, dan masih berkutat dengan skripsi dan revisi-revisinya.

Kini Tulung mulai tidak yakin dengan mimpi-mimpinya bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Luti yang dulu selalu mendoakan dan memberikannya dukungan pun telah hilang dalam hidupnya. Itu karena salah Tulung sendiri yang memilih berpisah karena mimpi-mimpinya. Mengabaikan perasaan cinta dan janji-janjinya kepada Luti hanya untuk mengejar mimpinya.

Awal-awal terlambat lulus sebenarnya bukan masalah besar bagi Tulung, ia masih bisa menjawab semua pertanyaan orang-orang yang menanyakan kapan ia lulus. Tapi itu sebelum orang tua dan keluarganya ikut bertanya.

Sehari-hari Tulung hanya mengunci dirinya dibalik tembok kosnya di Kota Gudeg itu. Menunggu balasan email dari dosen pembimbingnya, berharap dapat menyelesaikan revisi skripsi dengan cepat. Jika tidak sedang mengerjakan skripsi, waktunya ia habiskan menulis dan membaca seperti hobby-nya. Dan kadang bisa seharian ia hanya menghabiskan waktunya untuk menangis meratapi nasibnya yang sial itu.

Kadang-kandang ia memaki Tuhan atas ketidak adilan-Nya kepada dirinya. Kadang pula ia sadar dan hanya bisa meratapi nasibnya lewat do’a. Tulung merasa jalan hidupnya memang sangat mudah pada awalnya, semua lancar sesuai rencana, tapi Tuhan mengujinya dengan ini. Membuatnya lebih sulit.

Suatu hari ia terjaga sampai pagi, termenung, teringat semua mimpi-mimpinya. Mimpi menjadi orang yang bermanfaat. Mimpi untuk bisa membantu orang lain, meringankan beban orang lain.

“Ya… Allah, apa yang ku lakukan ini? Apa yang ku lakukan disini?” Tiba-tiba ia teriak memecah keheningan subuh kota Jogja. Ia sadar ia ingin menjadi orang bermanfaat, ingin membantu orang lain. Tapi apa yang dilakukannya selama ini yang hanya tinggal mengurung diri di dalam kamar kosnya adalah hal yang salah.

“Seharusnya aku tidak hanya fokus ingin menjadi bermanfaat dan membantu orang-orang di kampungku. Menunggu bermanfaat sampai aku lulus. Seharusnya aku tidak begitu. Aku harus ke luar, membantu orang-orang di luar sana, membantu orang-orang yang tinggal di dekatku. Bukan mengurung diri seperti ini di kos.” Kata Tulung pada dirinya subuh itu.

Ia kemudian mengambil buku jurnal hariannya, ia menulis pada dua halaman sekaligus dengan huruf kapital menggunakan spidol merah, “Katanya ingin bermanfaat, mana? Kenapa hanya di kos? Kenapa orang yang minta tolong di jalan kau diamkan? Apakah tidak ada orang yang butuh pertolongan di luar sana? Kenapa kau selalu jauh memandang ke depan padahal apa yang ada di depanmu sekarang butuh pertolongan? Ayolah sadar Tulung. Keluar!”

Paginya ia keluar, berjalan di antara rumah-rumah wara, tersenyum sambil menyapa warga yang selama ini menjadi tetangganya. Tapi apa yang dicarinya tak didapatkannya. Orang yang butuh pertolongan. Butuh bantuan. Ia terlalu malu untuk bertanya dan menawarkan bantuan pertama kali.

Siang ia kembali ke kos. Saat mulai lapar ia sadar bahwa ia belum makan dari kemarin dan sudah tidak punya uang. Tulung menangis dan tiba-tiba ingat kepada orang tuanya, sudaranya, dan Luti. Ia ingat bagaimana pengorbanan mereka kepada Tulung, tapi ia merasa ia hanya menjadi beban saja untuk orang lain. Terutama untuk orang tua dan keluarganya.

“Ini hanya mimpiku, hidup bermanfaat dan meringankan beban orang lain.” Tulung memberanikan diri mengirim sebuah SMS ke Luti setelah sekian lama putus komunikasi dengannya.

Hari itu juga ia menelepon dengan kakaknya yang kemudian menanyakan tentang kuliahnya. Tulung menjelaskan kepada kakaknya bahwa ia telah berusaha dan ia juga tak ingin hidup seperti ini. Melalui telepon itu ia menitip salam kepada orang tuanya.

****

Ayah dan Ibu Tulung sudah dalam perjalanan ke Yogyakarta. Di atas pesawat Ibunya terus saja meneteskan air matanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ayah Tulung.

“Sabar, Bu.” Kata Ayah Tulung sambil terus mengusap kepala istrinya.

Mereka tiba di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta dengan selamat. Disana sudah menunggu Adi, senior dan juga teman satu kosan Tulung yang juga dari Sulawesi. Adi mengantarkan kedua orang tua tulung langsung ke rumah sakit.

“Dia kenapa Nak Adi? Kenapa dia begitu?” Tanya ibu tulung di perjalanan sambil terus menangis.

“Aku juga tidak tau pasti Tante, hari itu seperti biasa pagi-pagi aku membersihkan depan kamarku. Ku lihat pintu kamar Tulung tidak tertutup rapat, tidak seperti biasanya. Setelah ku buka, sudah ku lihat ia tergantung dengan seutas tali yang melilit di lehernya terikat ke langi-langit kamar. Semua barangnya dalam keadaan rapi dan di masukkan ke dalam kardus dan koper seperti orang yang ingin pulang kampung. Hanya ada sebuah kertas di meja belajarnya yang bertuliskan, ‘Hidup tak berguna tak ada guna, mati tanpa beban tak meninggalkan beban’. Setelah itu aku langsung teriak dan membangunkan semua penghuni kosan.”

Mendengar itu Ibu Tulung menangis histeris semakin menjadi-jadi. Ia tak menyangka anak kesayangannya akan mengakhiri hidupnya seperti itu. Ayahnya terus saja berusaha menenangkan. Meski ia tak menangis, ia tetap tak mampu menyembunyikan kesedihan di wajahnya. Matanya berkaca-kaca dan suaranya sangat berat seperti menahan tangis dan rasa sakit yang begitu pedih. Hanya ada tangis setelah itu di dalam mobil sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit dimana Tulung di autopsi.

Baca Selengkapnya
Artikel Terkait
Simbar Riomai

Jomblo filosofis, puitis tak pernah nangis. Paling suka makan kue lapis, minumnya kopi tak harus manis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!