Connect with us

Cerpen: Ramalan

Ilustrasi / foto: pexels.com

Cerpen

Cerpen: Ramalan

Apa pun ramalan itu, itu tidak akan terjadi jika kau tak pernah mencobanya. Memang lebih baik mencoba diam-diam dari pada hanya diam.

Malam sudah sangat larut ketika tiba-tiba kurasa handphone ku bergetar di bawah bantal. Ku kumpulkan tenaga untuk menggapainya dan dengan mata seolah menolak untuk melihat ku coba menatap layar handphone ku.

“Ohh… Hafni, ada apa dia menelepon ku malam begini?” Tanya ku dalam hati.

Ku tekan tombol hijau dengan gambar telepon di atasnya kemudian ku letakkan di samping telingaku sambil berkata dengan malas, “Ya, halo?”

“Hari ini pengumuman lulus SNMPTN, kamu sudah cek?” Tanya Hafni dari seberang telepon.

“Belum” Jawabku masih dengan nada malas dan mengantuk.

“Tanggal lahirmu berapa? Nanti aku cek”

“14 April 1993”

“Oke, tunggu yah, aku coba cek”

“Oke…” Jawabku singkat lalu mematikan telepon.

Aku berusaha melanjutkan tidur ku kembali sambil meletakkan handphone di samping bantal. Mataku hampir saja terpejam, tetapi handphone yang tadi ku simpan di samping bantal ku kembali bergetar. Tanpa melihat layar lagi, aku langsung mengangkat telepon dan berkata dengan nada sedikit emosi, “Ya…, kenapa?”

“Kamu lulus” Kata Hafni dengan nada semangat.

“Apa? Kenapa?” Tanyaku memastikan dan berusaha menyadarkan diri.

“Kamu lulus, kamu diterima di Kedokteran UGM” Katanya lagi memperjelas.

Seperti disiram air es saat tidur, tiba-tiba perasaan ngantuk itu hilang. Senang tapi juga bingung dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hafni.

“Kamu serius?” Tanyaku dengan nada tinggi dan tidak percaya sambil bangkit dari tempat tidur.

“Iya serius” Hafni meyakinkan.

Aku berjalan dengan kaki sedikit jinjit berusaha agar tidak membangunkan yang lain. Maklum saja rumahku ini rumah panggung dengan lantai kayu yang tidak malu berderit saat ada orang berjalan di atasnya. Apalagi pada saat sepi seperti malam ini.

Malam yang benar-benar sepi, ku lihat jam di layar handphone ku sudah menunjukkan pukul 01.13 pagi. Di luar suasananya sangat tenang, semua lampu rumah tetanggaku sudah dipadamkan. Jalan trans provinsi yang menghubungkan Kota Makassar dan Mamuju yang persis di depan rumahku juga sangat sepi malam ini.

Di kejauhan, di arah barat depan rumahku, bisa kulihat jejeran bayang pohon kelapa yang ada di pinggir pantai. Daunnya berkilau memantulkan cahaya bulan yang jatuh di atasnya. Sesekali ku rasakan angin pantai berhembus ke dadaku, sambil membawa aroma laut dan suara debur ombak pantai yang gemerincing seperti bunyi kerikil yang bergesekan.

Aku mencoba naik dan duduk di atas pagar teras rumahku, sambil terus berpikir dan berusaha meyakinkan diri dengan apa yang baru saja dikatakan Hafni.

“Halo, Hafni?” Tanyakan memastikan kalau Hafni masih ada di seberang telepon.

“Iya? Kenapa?”

“Tolonglah, jangan bercanda dulu. Kamu serius kan ini?” Tanyaku memastikan sekali lagi.

“Iya saya serius, demi Tuhan. Kamu mendaftar SNMPTN pilihan pertama Kedokteran UGM kan? Terus pilihan kedua di Kedokteran UNHAS. Nah, disini dikatakan kamu lulus pilihan pertama.” Jawab Hafni mencoba meyakinkan.

Meskipun telah dijelaskan beberapa kali dan tampaknya Hafni memang serius, aku tetap saja ragu dan tidak percaya. Kemudian aku memutuskan untuk melihat pengumumannya sendiri.

“Haf, sudah dulu yah, makasih atas infonya. Nanti aku telepon lagi.” Kataku.

“Oke, selamat yah. Assalamu ‘alaikum”.

Setelah mematikan telepon, aku langsung memerikan pulsa handphone ku berharap punya pulsa yang cuku untuk mengakses internet. Tapi ternyata tidak.

“Mugkin saja Ayahku punya pulsa yang cukup untuk internetan dan melihat pengumuman ini sendiri.” Kataku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku berjalan ke dalam rumah dan membangunkan ayahku untuk meminjam handphone-nya.

“Yah…” Kataku pelan sambil menggoyangkan bahu ayahku untuk membangunkannya.

“Ummmm…” Kata Ayahku sambil membalikkan kepala ke arahku.

“Mau pinjam hape”

Tanpa berkata sepata kata pun, Ayahku menunjuk handphone-nya yang disimpan agak jauh dari tempat tidurnya.

Aku mengambil handphone ayahku dan memeriksa sisa pulsanya dan alhamdulillah masih cukup untuk mengakses internet. Tanpa menunggu lama segera ku buka browser Opera di handphone-nya dan membuka halaman website tempat pengumuman kelulusan SNMPTN. Ku masukkan data diri yang diminta pada website dan dengan cepat ku tekan enter. Saat menunggu hasil pengumuman dimuat di browser karena jaringan internet yang lambat di kampungku, jantungku tiba-tiba saja berdetak kencang dan pikiranku mulai bertanya apakah benar saya lulus?

Jawaban itu pun datang, ku lihat hasil pengumuman SNMPTN itu telah dimuat dengan sempurna di layar handphone ayahku. Aku lulus. Ya, Aku lulus kedokteran UGM. Dengan setengah teriak, aku mengucapkan alhamdulillah.

“Alhamdulilllah, Ya.. Alllah” ucapku beberapa kali yang kemudian memecah keheningan malam menjelang subuh itu.

Aku berjalan kembali masuk ke tempat tidur orang tuaku dan kembali ku goyangkan bahu orang tuaku sambil berkata, “Yah, aku lulus di Kedokteran UGM”.

“Apa?”

“Aku diterima kuliah di kedokteran UGM, di Jawa.” Kataku memperjelas dengan menggunakan kata Jawa. Maklum saja, orang tuaku bukanlah orang yang berpendidikan dan tidak tau apa itu Universitas Gajah Mada atau UGM. Beliau hanya tau orang yang kuliah di Jawa adalah orang yang hebat. Kata Jawa ini merujuk ke Pulau Jawa, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan kota-kota lain di Jawa. Itu sebutan yang sering digunakan orang-orang di kampungku.

Ayahku kemudian bangun dan membangunkan ibu ku juga. Rasa ngantuk Ayahku juga tiba-tiba hilang karena berita ini. Aku pun berusaha menelepon Hafni kembali dengan handphone ayahku dan mengucapkan terima kasih sudah memberitahu ku pengumuman ini.

Ku nyalakan lampu di ruang tengah rumah lalu kemudian duduk di kursi panjang tua berwarna biru. Aku terus berusaha membuka dan menutup halaman website pengumuman itu berkali-kali, berusaha meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lihat memang benar dan tidak salah. Ayahku datang menghampiriku, duduk persis di sampingku dan bertanya kembali tentang berita yang baru saja ku kabarkan tadi kepadanya, berita kelulusanku.

“Kamu lulus dimana?”

“Aku diterima kuliah di Jawa, Yah. Di jurusan kedokteran UGM”

“Tapi kita tidak punya uang”

“Ini beasiswa” Kataku meyakinkan ayahku.

“Baguslah kalau begitu.” Jawabnya singkat dan kemudian terlihat berpikir.

Jujur saja dalam hati aku juga masih bertanya, apakah saya akan mendapatkan beasiswa nantinya atau tidak, belum lagi, saya belum pernah ke luar pulau. Ke kota Makassar pun yang jaraknya 900km lebih dari kampungku hanya beberapa kali, itupun dengan orang lain. Tapi ini saya harus ke pulau Jawa, daerah yang belum pernah aku datangi dan keluargaku juga belum. Pikiranku berhenti memikirkan apakah benar saya lulus atau tidak, tapi justru memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain.

“Ini ada kopi.” Kata ibuku yang tidak ku sadari telah ada di samping ayahku dan menawarkan kopi untuk ku dan ayah. Ibu memang paling mengerti urusan kopi seperti ini. Dia tidak akan membiarkan ayah dan saudara-saudaraku yang lain duduk bercerita di ruang tengah rumah tanpa ditemani kopi yang jadi menu favorit di keluargaku.

“Ada apa?” Tanya ibuku sambil duduk di kursi yang ada di seberang maja di depan ayahku

“Jadi ini Bu, anak kita katanya diterima kuliah di Jawa.” Kata ayahku berusaha menjelaskan.

“Jawa?” Kata ibuku seolah kaget sambil melirik ke arah ku.

“Iya, Jawa” Kataku singkat.

Ibuku hanya diam dan melotot kepadaku seolah tidak percaya.

Aku tiba-tiba teringat tentang sebuah ramalan. Aku yakin, ibuku melotot bukan karena saya lulus di Jawa tapi karena teringat ramalan itu.

****

Beberapa tokoh masyarakat yang dituakan di kampungku terlihat berjalan ke belakang rumahku malam itu. Samping kamarku memang jalan menuju beberapa rumah yang ada di bagian belakang rumahku. Jadi aku sangat leluasa melihat siapa saja yang lewat dari atas jendela kamarku. Orang-orang yang tadi ku lihat berjalan ke belakang rumahku itu semua menuju ke rumah salah seorang tetanggaku di belakang rumah.

Malam itu tetanggaku yang tinggal persisi di belakang rumahku kesurupan dan mengaku telah dirasuki oleh roh nenek moyang yang membangun kampung ini. Jujur saja aku tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, tapi sebagai anak muda yang rasa penasarannya masih tinggi, aku kemudian turun dari rumah dan ikut bergabung dengan beberapa warga kampung lain yang sedang berdiri di dekat sudah jalan di belakang rumahku.

Aku berusaha mendengar cerita dari tetanggaku. Ku dengar suara teriakan di atas rumah tetanggaku yang kesurupan. Ku lihat juga banyak orang di atas rumah, termasuk anak-anak yang terlihat takut tapi tetap berusaha mengintip dari luar jendela depan rumah.

Beberapa teman mainku terlihat duduk di tangga depan rumah sambil bercerita. Aku berusaha mendekat ke arah mereka dan berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi. Dari cerita mereka, aku mengetahui bahwa tetanggaku yang kesurupan ini katanya dirasuki roh leluhur kampung kami dan mengingatkan kami akan marah bahaya yang akan datang.

“Siapa yang bisa panjat kelapa?” Kata seorang ibu-ibu dari atas rumah memotong pembicaraan kami. Kami semua—anak muda yang ada di tangga—diam dan bingung dan tak tahu harus menjawab apa.

“Ayo, siapa bisa panjat kelapa, yang baru datang minta air kelapa.” Katanya ibu-ibu itu lagi berusaha menjelaskan bahwa roh yang merasuki tetanggaku yang kesurupan itu meminta air kelapa. Dia menyebutnya dengan sebutan ‘yang baru datang’ dengan artian baru merasuki tetanggaku.

Kami pun saling tunjuk, yang akhirnya diputuskan saya yang harus memanjat kelapa malam itu.

Aku memang kurang berbakat dalam hal memanjat, terutama kelapa, tapi jika terpaksa sebenarnya bisa saja. Masalahnya adalah saya harus memanjat malam begini dalam kondisi yang horror ini. Jujur saja, hanya mendengar cerita kesurupan tadi saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding, apa lagi harus memanjat kelapa malam-malam untuk orang yang kesurupan. Tapi tidak ada pilihan lain, sebagai tetangga yang baik dan satu-satunya anak petani yang ada disitu, terpaksa aku yang melakukannya.

Aku berhasil mengambil dua buah kepala dari pohon kelapa yang pendek yang ada di sudut rumahku, tentu saja dengan susah payah karena memang saya tidak pandai dalam hal memanjat, apa lagi saat malam. Aku memberanikan diri mengantar kelapa itu ke atas rumah dan memberikannya kepada ibu-ibu yang menyuruhku tadi. Di atas rumah, ku lihat ibu ku sedang duduk di salah satu sudut ruangan bersama dengan beberapa orang tua lainnya.

Aku berjalan mendekat ibu ku dan duduk di sampingnya. Jarak ku mungkin hanya tiga meter dari tetanggaku yang kesurupan itu. Ku liat ibu-ibu yang tadi menyuruh ku membuka kelapa yang baru saja ku berikan dan menawarkannya kepada tetanggaku yang masih dirasuki roh yang mengaku sebagai leluhur kampung kami. Ku lihat ia minum seperti orang yang sangat kehausan, lalu kemudian meletakkan kelapa itu di lantai.

“Itu anakmu?” Tanya tetanggaku yang kerasukan itu ke ibuku sambil menunjuk ke arahku.

“Iya, ini anak bungsuku.” Kata ibuku sambil memegang ku seolah memeluk.

Tetanggaku itu pun sejenak melihat ke arahku dan tersenyum kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah Ibuku yang duduk persisi di sampingku.

“Itu anakmu, anak yang hebat, dia akan kuliah ke Jawa.” Kata tetanggaku kemudian melanjutkan.

Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju ke arahku malam itu. Aku diam dan hanya tertunduk, tidak berani menatap ke arah tetanggaku yang sedang kerasukan itu. Ku tarik ujung baju ibu ku, seolah memberi tanda untuk pulang. Tanpa menunggu lama, ibuku pun mengerti dan kami pamit pulang kepada yang lain.

Dalam perjalanan aku hanya berpikir, dari mana pula dia bisa tahu aku akan kuliah di Jawa, sedangkan terpikir pun aku tidak. Aku memang sedang duduk di bangku kelas 3 SMA dan sebentar lagi lulus, orang tua ku tidak memiliki biaya dan menyarankanku kuliah di Majene, kota kabupaten tempat saya tinggal yang jaraknya hanya 30 km dari kampungku.

Aku tidak pernah membahasnya dengan Ibu maupun Ayahku tentang ucapan tetanggaku yang kesurupan itu. Aku juga tidak tau apa yang ada di pikiran Ibuku malam itu. Yang pasti setelah kejadian malam itu, kami semua melupakan ucapan tetanggaku itu dan menganggapnya hanya sebagai ucapan orang yang kesurupan saja.

****

Aku selalu berpikir apa yang dikatakan tetanggaku yang kesurupan dan mengaku dirasuki roh leluhur itu sebagai lelucon, sama seperti kejadian kesurupan itu yang juga kadang ku anggap sebagai lelucon. Tapi tidak hari ini setelah mengetahui saya lulus dan diterima di jurusan kedokteran UGM.

Aku kemudian bertanya-tanya, dari mana dia tau aku akan kuliah di jawa? Padahal waktu itu berpikir kuliah ke jawa pun tidak ada dalam pikiranku. Apalagi sampai menceritakannya kepada orang lain.

“Sudahlah…” Kataku dalam hati. Apa pun ramalan itu, yang pasti aku tidak akan pernah lulus di UGM atau dimanapun jika sebelumnya aku tidak pernah berusaha mencari informasi, mengurus, dan mencoba kesempatan ini. Memang lebih baik bisa mencoba diam-diam dari pada hanya diam.

Baca Selengkapnya
Artikel Terkait
Simbar Riomai

Jomblo filosofis, puitis tak pernah nangis. Paling suka makan kue lapis, minumnya kopi tak harus manis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!