Connect with us

Cerpen: Komputer Tukang

Ilustrasi / foto: pexels.com

Cerpen

Cerpen: Komputer Tukang

Orang tua yang hebat adalah mereka yang mendukung anaknya karena percaya tujuannya baik, meski sebenarnya mereka sendiri tak mengerti itu apa.

“Kring…kring… kring…..” Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Langsung saja ku masukkan semua buku dan alat tulisku ke dalam tas ransel dan memakainya.

Aku berlari menuruni bukit samping kelas ku, berjalan menuju tangga kantor sekolah ku yang juga menjadi gerbang utama sekolah ini. Di atas tangga persisi di pintu pagar sekolah ku, aku berdiri, memandang jauh ke selatan, ke arah jalan menuju rumahku. Bukan, aku tidak sedang melihat ke rumahku, aku sedang mencari seseorang yang menjemput ku. Aku sedang memastikan apakah sudah ada ayahku di sana, di sudut sekolah, menunggu di bawah pohon di sisi jalan dengan motornya.

Ayahku selalu menjeput ku di sekolah jika sedang tidak bekerja. Ayahku berkerja sebagai tukan kayu, kadang bekerja di rumah, kadang di daerah lain, dan kadang juga tidak bekerja seperti sekarang ini, dimana rumah kayu mulai ditinggalkan. Selain sebagai tukang kayu, ayahku juga sering membantu ibuku mengelola kebun dan ternak peliharaannya.

Dari kejauhan ku lihat ayahku sudah berteduh dan duduk di atas motor merah kesayangannya. Satu persatu kemudian ku turuni tangga depan sekolahku dan berlari menuju tempat Ayahku menuruni sisi jalan depan sekolah ku yang agak berbukit.

“Hei….” Kataku ingin mengagetkannya.

“Eh, sudah pulang?” Ayahku menanggapi dengan pertanyaan basa-basinya.

“Iya.”

Mendengar jawabanku, tanpa basa-basi lagi ayahku langsung menyalakan mesin motornya. Aku pun langsung mengambil helm yang diberikannya dan memakainya. Aku lalu naik ke atas motor dan bergegas pulang.

Jarak sekolah dan rumahku hampir berjarak 2 km. Di jalan aku bercerita dengan Ayahku tentang komputer yang hari ini ku pelajari di sekolah. Aku bertanya kepadanya apakah dia tau komputer atau tidak.

“Yah, tau komputer kan?”

“Tau” Jawab ayahku singkat.

“Ayah tau dari mana?” Tanyaku diikuti tawa kecil yang sedikit mengejek. Aku memang sangat akrab dengan Ayahku. Aku tau ayahku pasti tau komputer dari TV. Tapi belum pernah melihatnya secara langsung. Aku juga, baru hari ini melihat komputer secara langsung di pelajaran komputer di sekolah. Ini hari pertama kami masuk ke lab komputer.

“Dari TV, hehehe” Jawab ayahku.

Ayahku memang hanya lulus sekolah dasar saja, sama dengan ibuku yang juga hanya lulus sekolah dasar. Kami pun tinggal di kampung, di lingkungan nelayan yang orang sekolah pun hanya untuk mengisi waktu. Setelah lulus SD, kebanyakan anak-anak di kampungku sudah melaut. Sebelum jadi tukang kayu seperti sekarang, Ayahku pernah bekerja sebagai tukang panjat kelapa, menjual ikan keliling dengan sepeda, dan yang paling terakhir sebelum menjadi tukang kayu, dia pernah menjadi tukang gergaji. Jadi sangat wajar kalau orang tuaku tidak pernah melihat komputer secara langsung. Bahkan mungkin fungsi komputer pun mungkin ayahku tidak tau.

“Yah, tadi aku pakai komputer di sekolah. Aku belajar menghidupkan dan mematikan komputer. Sangat hebat, Yah. Canggih…” Ku ceritakan pengalaman pertama ku menggunakan komputer kepada ayah dengan semangat.

“Jadi kamu sudah tau pakai komputer?” Tanya Ayahku dengan nada mengejek.

“Taulah.” Jawabku singkat.

Sampai di rumah setelah turun dari motor, aku tidak langsung naik ke atas rumah seperti biasa. Hari ini ku ikuti ayah masuk ke dalam kolong rumah untuk memarkir motornya.

“Yah, sepertinya bagus kalau di rumah ada komputer.” Kataku dengan nada bercanda.

Ayahku tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja.

Malam hari saat ku bantu Ibuku menyiapkan piring dan gelas serta mengisi air minum untuk makan malam. Aku kembali bercerita tentang pengalaman ku menggunakan komputer pertama kali di Sekolah. Dengan semangat ku ceritakan kepadanya bagaimana aku tadi siang di sekolah mematikan dan menyalakan komputer. Hingga tidak ku sadari ayahku sudah ada di dapur.

“Komputer terus…” Dengan nada mengejek, ayahku tiba-tiba muncul di balik gorden pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang keluarga.

“Yah, beli komputer Yah, biar Ayah bisa belajar juga.” Kataku menggoda.

“Kamu kira ikan? Ikan saja susah di beli, apa lagi komputer.” Kata Ibuku menanggapi.

Ayahku hanya tertawa kecil mendengar jawaban tanggapan Ibuku. Setelah itu kami pun langsung makan malam bersama.

Sebenarnya aku juga tidak tau berapa harga komputer dan tidak tau mau menggunakan komputer untuk apa. Menggunakan komputer pun aku baru belajar, itu pun hanya sebatas mematikan dan menyalakannya saja. Meski hanya terkesan bercanda saat meminta komputer, sebenarnya aku memang ingin punya komputer. Tetapi aku sadar, seperti kata Ibuku, jangankan komputer, ikan saja susah.

****

Langit mulai gelap, dengan telanjang kaki layaknya anak kampung lain aku berjalan menuruni bukit di belakang kampung sambil memikul seikat makanan kambing yang baru saja aku ambil dari kebun. Jalan malai gelap, langit yang memerah pun tak tampak karena rimbun pohon yang membuat jalan ini seperti terowongan tak bertembok. Di kejauhan, tepat di arah bara, masih terlihat sedikit cahaya keemasan yang terselip melalui celah-celah dedaunan rimbun. Suara masjid terdengar dari kejauhan, bersaing dengan suara khas malam yang mulai bersautan diantara pepohonan. Aku berjalan menuju cahaya-cahaya itu, menuju barat, menuju ke perkampungan, menuruni bukit sambil memikul beban ini.

Perasaan lega menghampiri ku setelah kaki ini mulai melangkah masuk ke perkampungan. Seolah keluar dari terowongan yang bangun dengan ribuan pepohonan, aku mulai bisa melihat cahaya di langit yang mulai redup. Kaki kecil ini mulai merasa nyaman berjalan diantara rumah warga yang setidaknya tidak berkerikil kasar seperti jalanan menuruni bukit.

Seperti biasa beberapa tetangga menyapaku, “Oi… Adi, hari ini kamu pulang terlambat lagi.” Adi, begitulah tetangga memanggil ku. Mereka sering hanya basa-basi menyapaku ketika pulang dari kebun dengan kalimat seperti itu. Sangat wajar pikir ku, karena diri semua petani dan anak petani di lingkungan ku, ku rasa hanya aku saja yang sering pulang dari kebun mepet dengan waktu magrib, bahkan terkadang malah lewat dari waktu magrib. Wajar saja ibu dan ayahku selalu khawatir dan kadang menyusul ku ke kebun.

Tahun ini umur sudah 15 tahun. Sudah sejak umur 12 tahun Ibu memberi ku kambing sendiri. Dan tentu saja aku juga mendapatkan parang sendiri. Parang yang dibelikan Ayah ku untuk ku pakai ke kebun. Hal ini sudah menjadi budaya sendiri di keluarga ku. Dimana anak laki-laki seperti saya, dan ke dua kakak laki-laki ku mendapatkan kambing dan parangnya sendiri-sendiri ketika berumur 12 tahun.

Seperti biasa setelah masuk perkampungan, aku tidak langsung menuju rumah. Tetapi terlebih dahulu ku antar makanan kambing yang baru saja ku ambil ke tempat keluargaku dan beberapa warga kampung menyimpan ternak. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumahku, disana terdapat beberapa kandang kambing, satu milik keluargaku dan beberapa milik tetanggaku. Aku berjalan melewati belakang rumahku sambil melirik ke atas teras dapur rumahku yang menjadi tempat Ibuku memasak Tap Ibu ku tak ada, tidak seperti biasanya.

Dari kejauhan mulai ku dengar suara kambingku mengembek tidak karuan, seolah berteriak kepadaku dan mengatakan, “Cepat, aku sudah lapar. Dari mana saja kamu lama sekali?”

Emmbelkk…kk” Suara kambing ku semakin keras.

Wajar saja mereka seperti itu, karena teman-teman kambingnya yang lain yang juga di kandang di tempat itu biasanya sudah mendapatkan jatah makan mereka dari tuannya pukul 04.00 sore atau paling lambar pukul 05.00, sedangkan ini sudah masuk waktu magrib, sudah sangat terlambat.

Ku lempar makan kambing yang dari tadi ku pikul ke tanah, ku renggangkan sedikit otot ku. Lalu kemudian ku bersihkan sisa makanan kambing yang ada di atas tempat makan kandang kambing ini. Aku menggerutu, berkata ke kambingku dengan nada sedikit emosi. “Sabar…” sambil ku dorong kepala kambingku masuk ke dalam kandang yang dari tadi menjilati tanganku seperti tidak sabar untuk menerima makanannya.

Hanya tersisa pengikat yang terbuat dari serat pelepa pisang dan beberapa tangkai lantoro yang sudah dikuliti dengan bersih oleh kambingku. Lantoro memang jadi makanan favorit semua kambing di kampung ini. Ku bersihkan semua dan ku kumpul di samping kandang. Kemudian segera ku naikkan makanan kambing yang baru saja ku ambil ke atas dan pulang ke rumah.

Aku berhenti mencuci kaki dan tanganku di bak samping rumahku. Dari situ ku lihat ada banyak orang di atas rumahku. Aku sedikit penasaran dan sejenak berhenti mencuci kakiku sambil tetap memegang timba yang terbuat dari potongan jerigen minyak. Ku lihat beberapa anak muda sedang duduk di depan rumah di dekat sebuah mobil yang sedang parkir persis di depan kios depan rumahku. Mereka melihat ke arah ku, seolah sedang membahas ku tapi aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Hei… Adi!”

Tiba-tiba saja ada yang memanggil ku.

“Hei… Adi!” Memanggil ku lagi dengan suara yang sedikit lebih keras.

Aku melihat ke atas teras rumahku dimana sumber suara itu datang. Ku lihat Kudung, teman main ku, melambaikan tangannya kepadaku sambil berkata, “Cepat sini!”

Aku semakin penasaran, ada apa di rumahku, kenapa banyak orang berkumpul dan kenapa ada kudung di rumahku. Aku segera mencuci kakiku dan naik ke atas rumah melalui tangga depan. Di ujung tangga ku lihat Kudung menunggu ku. Seperti ada hal yang sangat penting yang ingin dikatakannya.

“Adi, komputer mu datang.” Kata kudung kepadaku ketika masih tersisa tiga anak tangga lagi yang haru ku naiki.

“Apa?” Tanyaku memperjelas.

“Komputer mu sudah datang.”

“Komputer?” Tanyaku bingung. Dalam hari aku berkata komputer apa pula. Karena penasaran aku mempercepat langkahku menaiki tangga dan langsung melihat masuk ke dalam rumah melalui jendela yang ada di depan tangga.

Aku kaget dan tidak percaya dengan apa yang ku lihat di dalam rumah. Sebuah komputer di pasang di atas meja di ruang tengah rumahku. Aku merasa ini hanya mimpi. Mimpi punya komputer sendiri padahal menggunakannya pun aku tak bisa.

Sejenak ku lupakan semua orang yang ada di rumahku. Aku diam, aku masih tidak percaya kalau ini nyata. Aku bahkan berpikir mungkin itu bukan komputer ku.

Sudah hampir tiga tahun semenjak aku pertama kali meminta Ayahku untuk membeli sebuah komputer. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas satu SMP. Aku tidak yakin kalau komputer yang kulihat di itu adalah komputer untuk ku, bukan karena masalah uang, karena bisa saja orang tuaku menabung untuk itu. Tapi bagaimana caranya dia, Ayahku, yang tidak tau komputer dan belum pernah melihat komputer, bisa membeli komputer.

Aku lalu berjalan menuju pintu rumahku, sekarang ku lihat dengan jelas seorang bapak-bapak yang tidak ku kenal duduk di depan komputer di ruang tengah rumah ku. Ku taksir umurnya lebih mudah dari umur Ayahku. Ku lihat ia seperti sibuk mengatur sesuatu di komputer. Ayahku duduk di sampingnya sambil ikut melihat dengan serius ke layar. Beberapa anak muda di kampungku ku terlihat berdiri di belakangnya sambil juga melihat ke layar komputer. Mungkin mereka penasaran dan juga ingin tahu seperti apa komputer itu. Maklum saja, ini mungkin komputer yang pertama di kampung ini.

Ayahku menyadari kedatanganku, dia melambaikan tangannya kepadaku, aku pun berjalan ke arahnya. Aku masih diam, ingin sekali rasanya aku teriak melepaskan rasa senang ku ini, tapi takut itu bukan komputer ku. Bukan komputer yang dibeli oleh Ayahku. Takut kecewa.

Bapak-bapak yang dari tadi sibuk mengotak-atik komputer itu langsung saja berdiri dan tersenyum kepadaku setelah menyadari kedatanganku.

“Anakmu yang ini kan?” Tanya bapak-bapak itu kepada Ayahku

“Iya, ini yang minta komputer.”

Aku masih diam, masih belum bisa mengerti dan menyimpulkan apakah ini komputer untuk ku atau bukan.

“Sini, coba komputer baru mu.” Kata bapak-bapak itu melanjutkan.

Tiba-tiba saja, tampa ku sadar sebuah senyum terbentuk di wajahku. Ku rasa otot-otot di sekitar mataku tertarik, rasanya mataku mulai berkaca-kaca. Aku tidak bisa lagi berkata apa. Aku hanya mengikuti perintah bapak-bapak itu untuk duduk di depan komputer yang katanya komputer ku ini.

Aku hanya memegang mouse yang diberikan kepadaku sambi terus menatap layar komputer seolah masih tidak percaya ini nyata. Aku mengikuti semua perintah bapak-bapak itu, meng-klik ini, kemudian itu, dan seterusnya. Kemudian terputar sebuah musik tanpa ku sadari. Sejenak kulupakan semua orang yang ada di ruangan itu. Aku sangat bahagia hari ini. Hari yang tidak akan kulupakan seumur hidupku, hari dimana setelah hampir tiga tahun berlalu aku meminta komputer dan bisa dibilang aku telah melupakannya, hari ini Ayahku dan pastinya dengan Ibu ku, membelikan ku sebuah komputer. Komputer yang mungkin pertama di kampung.

Baca Selengkapnya
Artikel Terkait
Simbar Riomai

Jomblo filosofis, puitis tak pernah nangis. Paling suka makan kue lapis, minumnya kopi tak harus manis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!