Connect with us

Cerpen: Naik Sepeda Kambing

Ilustrasi / foto: pexels.com

Cerpen

Cerpen: Naik Sepeda Kambing

Parang mu ini, hati-hati. Jangan digunakan sembarangan.

Adi pulang ke rumah dengan langkah yang sedikit pincang dan dengan senyum tersungging di wajahnya seperti baru mendapat hadiah.

“Ada apa?” Tanya Ayahnya heran.

“Tuh…” Menunjuk dengan bangga lututnya yang sedikit lecet dan berdarah.

Sudah beberapa hari ini Adi belajar mengendarai sepeda dengan teman-temannya. Tidak tanggung-tanggung, mereka belajar dengan sepeda orang dewasa punya kakak teman Adi yang tempat duduknya hampir sama tinggi dengan Adi.

“Kenapa?” Kata Ayahnya lagi.

“Tadi jatuh, Yah. Tapi Adi sudah bisa loh.” Kata Adi bangga.

“Kau ini….” Kesal Ayahnya.

Adi kembali membalas dengan senyum bangga dan ekspresi seolah tak bersalahnya.

“Bu, anak mu Bu. Jatuh dari sepeda.” Teriak Ayahnya ke atas rumah.

Ayahnya sedang bekerja di bawah kolong rumah siang itu. Ia sedang mengerjakan beberapa kosen pesanan pelanggan bersama beberapa pegawainya saat Adi pulang ke rumah. Ia kemudian menyuruh anak bungsunya itu mencuci luka di lututnya dan meminta Ibunya mengobati.

“Yah, sepeda. Hehe… Masa pinjam punya teman terus.” Adi menimpali sambil berlalu pergi.

Ayahnya hanya tersenyum, seolah menganggap omongan anaknya hanya bercanda. Tetapi sebenarnya dalam hati ia tahu anak bungsunya itu benar-benar ingin sepeda. Ia sangat tahu gaya anak bungsunya ini jika meminta sesuatu.

Sudah beberapa hari semenjak jatuh dari sepeda. Luka di lutut Adi juga sudah mulai mengering. Sore itu Ayahnya mengajak Adi ke kebun dan memberikannya parang sendiri. Parang yang baru dengan ukuran mini yang sesuai dengan postur tubuh Adi yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar.

“Ini kambing kamu sekarang. Harus dijaga dan dirawat. Jangan malas lagi.” Ayahnya menunjuk seekor anak kambing jenis etawa berbulu pirang.

“Parang mu ini, hati-hati. Jangan digunakan sembarangan.” Kata Ayahnya lagi melanjutkan.

Adi hanya tersenyum, bahagia karena telah memiliki kambing sendiri untuk dirawat dan parang sendiri untuk mengambil makanan kambing. Ia merasa sudah dewasa, meski umurnya masih 12 tahun, tetapi ia sudah memiliki tanggung jawab sendiri. Menjaga dan merawat kambingnya sendiri.

Meski ia benar-benar ingin dibelikan sepeda dan malah diberi kambing, ia sangat senang. Rasanya ia ingin memeluk Ayahnya tetapi malu. Jadi ia hanya tersenyum dan tidak banyak bicara lagi.

Selama ini memang Adi sering ke kebun untuk membantu Ibunya yang punya banyak kambing dan sapi peliharaan. Tetapi hanya sebatas membantu, ia belum memiliki tanggung jawab sendiri. Ini seperti hadiah sekaligus beban baru untuk Adi. Walau begitu, ia seperti ingin teriak karena bahagia. Mendapatkan parang sendiri seperti dapat pengakuan baginya.

Tidak menunggu waktu lama, Adi langsung saja meminta izin kepada Ayahnya untuk menggunakan parangnya pertama kali, mengambil makanan kambing yang pertama untuk kambingnya sendiri.

“Yah, Adi ambil makanan kambing sekarang ya.”

“Hati-hati. Tidak usah memanjat yang tinggi dulu.” Pesan Ayahnya.

“Iya, Yah.”

Setelah berjalan pergi mencari dan mengambil makan kambing dengan parang barunya. Langsung saja Ayahnya membersihkan kandang kambing yang ada di kebun sambil sesekali tersenyum bahagia mengingat ekspresi anak bungsunya yang baru saja mendapatkan kambing dan parang pertamanya.

Sudah menjadi tradisi memang di keluarga kecilnya, ketika anak laki-lakinya berumur sekitar 12 tahun, anak-anaknya mulai di ajari tanggung jawab dengan memberikannya kambing untuk di rawat. Sebagai tanda mereka telah mendapatkan tanggung jawab sendiri, anak-anaknya akan diberi parang sendiri yang di pesan dan ditempa khusus agar mudah, aman, dan sesuai digunakan untuk anak-anaknya.

Setahun setengah telah berlalu. Anak kambing Adi yang dulu masih kecil dan lucu kini berubah menjadi kambing pejantan yang terkenal di kampung. Badannya yang besar, telinganya panjang tergantung, dan bulunya yang lebat khas kambing etawa berwarna pirang keemasan membuat Adi sesekali ingin menungganginya seperti kuda. Bahkan, sekali Ibunya pernah marah dan berkata, “Itu kambing, bukan kuda. Kalau mau naik, pelihara kuda saja. Bukan kambing.”

Adi mulai tidak sanggup mengendalikan kambing yang ia beri nama Joki ini. Kambingnya yang tumbuh dengan cepat dan semakin kuat membuat Adi kewalahan jika ingin memandikannya.

Hari Jumat merupakan hari yang biasa digunakan warga kampung untuk memandikan ternak. Begitupun dengan Adi. Setiap hari Jumat ia harus memandikan Joki kambing pertamanya. Dengan seutas tali dan bantuan dari kedua saudaranya yang juga ingin memandikan kambing-kambingnya, ia menggiring Joki dengan kambing yang lain ke perkampungan untuk di mandikan.

“Joki sudah besar, jual saja.” Kata Alif, kakak Adi.

“Tidak mau ah.” Jawab Adi.

“Mau tidak mau harus di jual. Kalau sudah besar di kasih makan juga tidak akan tambah besar.” Jelas Alif lagi.

Adi tidak menjawab. Ia memilih melanjutkan menyabuni kambing kesayangannya, Joki.

Malam harinya saat makan malam keluarga, Ayah Adi tiba-tiba membuka pembicaraan terkait Joki, kambing Adi yang sekarang sudah tumbuh besar.

“Ayah lihat kambing mu, Joki, sudah besar. Mungkin sudah waktunya di jual.”

“Tidak usah di jual.” Jawab Adi singkat.

“Tapi kalau dipelihara terus sama saja, tidak akan tambah besar.” Ibunya menimpali.

“Tidak apa-apa.” Jawab Adi lagi sedikit marah.

“Kalau dijual bisa buat sepeda.” Ayahnya meyakinkan.

“Tidak usah ada sepeda.”

“Ya sudah, tidak apa-apa.” Ayahnya menutup pembicaraan dan melanjutkan makan malam.

Sebagai orang tua yang sudah lama beternak kambing, Ayah dan Ibu Adi memang sangat tahu kalau memelihara kambing ada batas waktunya. Mereka tahu kapan kambing harus dijual dan kapan waktunya untuk memelihara anak kambing yang baru. Tetapi mereka juga tidak dapat memaksakan kehendak, karena mau bagaimanapun itu kambing Adi sendiri. Wajar saja memang Adi tidak ingin menjual Joki, pemikirannya masih anak-anak, belum lagi ini adalah kambing pertamanya.

Semenjak kejadian saat makan malam itu, Adi yang lupa dengan sepeda, kini sesekali kembali berpikir ingin sepada. Tetapi karena lebih memilih menjaga kambingnya Joki, ia kembali berusaha mengubur keinginannya itu. Setiap harinya setelah pulang dari sekolah yang ia lakukan adalah menonton TV dan kemudian ke kebun untuk memberi makan Joki, kambing kesayangannya.

Seminggu kemudian, Adi yang baru saja pulang dari sekolah tidak bisanya setelah makan siang langsung disuruh Ayahnya untuk ke kebun dengan cepat. Padahal biasanya ia berangkat ke kebun untuk mengambil makanan kambing sekitar pukul 04.00 sore atau paling cepat pukul 03.00 sore. Karena tidak ingin membantah, akhirnya diikuti saja perintah Ayahnya itu, ia berangkat dan satu jam lebih kemudian ia telah kembali.

“Sudah selesai?” Tanya Ayahnya.

“Sudah.”

“Ya sudah, sekarang mandi.” Perintah Ayahnya.

Adi kemudian mandi dan setelah selesai dan berpakaian. Adi dan Ayahnya kemudian berangkat dengan sepeda motor ke Kota Polewali, yang jaraknya sekitar 10 km dari rumahnya. Adi sebenarnya masih bingung dan bertanya-tanya ada apa Ayahnya tiba-tiba mengajaknya ke kota. Tetapi karena ragi ia pun tak bertanya.

Tiba di Kota Polewali, Ayahnya langsung saja memarkir sepeda motor persis di depan toko sepeda. Adi dan Ayahnya kemudian turun. Ayahnya masuk ke dalam toko di ikuti Adi.

“Adi suka yang mana?”

Adi hanya diam sambil terus menempelkan pandangannya ke sepeda-sepeda yang ada di toko itu. Harapannya untuk sepeda ternyata tidak hilang. Kini ia seperti lagi bermimpi, ia sedang di toko sepeda dan memilih sepeda. Ia sangat bahagia, bukan hanya karena sepeda baru yang sebentar lagi akan dibawanya pulang, tetapi juga karena Joki kambingnya tidak jadi di jual.

Adi memilih sepeda ukuran sedang dengan warna oranye. Katanya warna itu dipilih karena mirip dengan warna bulu kambingnya, Joki. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah yang ada di bayangannya hanya sepeda dan teman-temannya. Ia berpikir kini ia tidak perlu lagi meminjam sepeda untuk bermain sepeda, karena ia telah punya sendiri.

Ayahnya sebenarnya bisa membeli sepeda untuk Adi dari awal. Ia hanya menunda dan mengajari Adi bahwa jika ia mau ia sebenarnya bisa membeli sepeda sendiri. Orang tua Adi berharap Adi nantinya bisa lebih menghargai dan mensyukuri sepeda tersebut jika uang yang digunakan untuk membeli sepeda itu dari uang hasil penjualan kambing yang selama ini dipeliharanya dengan susah payah. Tetapi, ternyata Adi lebih memilih tidak memiliki sepeda dari pada harus menjual kambing pertamanya, Joki.

Baca Selengkapnya
Artikel Terkait
Simbar Riomai

Jomblo filosofis, puitis tak pernah nangis. Paling suka makan kue lapis, minumnya kopi tak harus manis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!