Connect with us

Restu Orang Tua itu Segalanya

Ilustrasi / foto: pexels.com

Keluarga

Restu Orang Tua itu Segalanya

Kamu bisa saja ahli dalam melakukan sesuatu, tetapi bukan berarti untuk melakukannya kamu tidak perlu restu orang tua.

Sering kita sebagai anak merasa paling bisa dan paling ahli dari orang tua. Terutama dalam hal teknologi atau bidang ilmu dan keahlian yang kita tekuni. Sangat mungkin memang kita sebagai anak lebih ahli dan lebih bisa dari orang tua, tetapi itu tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikan pendapat dan pandangan mereka.

Sebagai anak yang sudah dewasa—terutama yang sudah lulus dari perguruan tinggi atau telah mendapatkan pendidikan yang dirasa cukup, kita sering sekali mengabaikan pandangan atau pendapat orang tua. Kita sering melakukan sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar pengaruhnya untuk hidup kita—tanpa meminta pandangan atau pendapat dari orang tua. Bahkan sekadar meminta izin pun terkadang kita lupa.

Contoh, jika kita merantau ke sebuah kota untuk kuliah, sebut saja Kota Bandung. Kita mungkin pernah atau sering ke luar kota untuk mengikuti acara-acara tertentu, baik yang masih dekat dengan Kota Bandung, maupun yang jauh, seperti ke Surabaya, Padang, atau bahkan ke Papua. Sangat banyak diantara kita yang bepergian jauh di tanah rantau tidak meminta izin kepada orang tua. Padahal, untuk zaman sekarang minta izin ke orang tua bisa cukup hanya lewat telepon atau SMS.

Mereka mungkin tak akan tahu atau tak akan lihat kamu ke mana. Bahkan tidak kamu mungkin merasa tidak ada bedanya orang tua kamu tahu atau tidak. Tetapi jika sedikit mau berpikir dan mencoba melihat dari sisi orang tua, apakah kita senang mengetahui anak kita yang setahu kita kuliah ke Bandung ternyata sedang ada di Padang tanpa meminta izin atau sekadar cerita ke kita (orang tua)? Saya rasa kita juga kalau menjadi orang tua nantinya tidak akan suka.

Itu hanya salah satu contoh sederhana bagaimana kita sebagai anak yang merasa sudah dewasa sering mengabaikan hal-hal kecil terkait orang tua. Dalam beberapa kasus, kita mungkin pernah mengabaikan orang tua untuk hal-hal yang lebih besar. Misalnya terkait memilih pasangan hidup, memulai usah atau bisnis sendiri, mencari pekerjaan, dan berbagai macam keputusan-keputusan penting lainnya dalam hidup.

Salah satu yang pernah saya alami sendiri yaitu ketika saya ingin memulai usaha laundry sendiri. Saya sebagai anak yang secara formal memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari orang tua saya yang hanya lulusan sekolah dasar (SD), sempat ingin jalan sendiri tanpa meminta pendapat atau pandangan orang tua. Bahkan karena merasa lebih bisa, saya juga sempat berpikir untuk tidak cerita sama sekali kepada orang tua dengan harapan mereka cukup melihat hasil yang saya buat dan tak perlu mengetahui apa yang saya lakukan dan bagaimana saya melakukannya. Mereka cukup melihat hasil pendidikan dan belajar saya selama ini di jurusan manajemen.

Memang kalau diingat-ingat lagi rasanya malu, karena sempat berpikir sehebat dan sesombong itu. Tetapi setelah mengingat kata seorang bapak-bapak yang sempat saya temui saat acara pengabadian masyarakat yang berpesan bahwa restu orang tua itu segalanya. Saya jadi sadar dan akhirnya meminta izin dan pandangan kepada orang tua saya.

Hari baik dan restu orang tua

Sebagai orang yang lahir di zaman ini, mungkin sedikit diantara kita yang masih percaya pada hal-hal mistis, ramalan, dan sejenisnya. Termasuk istilah penentuan hari baik dan hari yang buruk dalam memulai sesuatu.

Hal yang sama saya alami ketika meminta izin dan pendapat kepada orang tua untuk memulai usaha laundry sendiri. Orang tua saya menyarankan untuk memulai membuka usaha pada hari yang ditentukannya, karena menurutnya hari itu adalah hari yang baik untuk memulai usaha.

Sebagai mahasiswa yang kuliah di jurusan manajemen rekayasa industri dan mengambil fokus pada pengembangan bisnis, bahkan telah beberapa kali terlibat aktif dalam pengembangan UKM. Saya sempat bingung dan merasa tidak perlu. Karena apa yang saya pelajari di kampus tentang pengembangan bisnis, tidak ada sama sekali yang membahas atau menyinggung sedikit pun tentang hari yang tepat untuk memulai bisnis atau usaha.

Tetapi sebagai anak yang belum mengerti hidup seperti orang tua mengeti hidup dan percaya bahwa restu orang tua adalah segalanya. Saya kemudiaan mendengarkan dan mengikuti saran orang tua saya untuk memulai usaha pada hari yang ditentukan.

Sebenarnya hari baik atau buruk itu bukan masalah hari itu bisa membawa kebaikan atau keburukan untuk kita dan usaha kita. Karena semua hari sama saja, hanya beda nama dan waktu saja. Menurut saya…

Hari baik adalah hari dimana kamu bisa memulai dan mendapatkan restu, do’a, dan dukungan dari orang tua serta orang-orang di sekitar mu untuk memulai.

Mendapatkan restu orang tua untuk semua hal yang akan kita lakukan menurut saya sama pentingnya dengan mendapatkan restu orang tua untuk mengesahkan pernikahan anak. Tanpa resntu dari orang tua atau wali yang di anggap sebagai orang tua, pernikahan tidak akan sah.

Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!