Connect with us

Full Day School Tidak Cocok di Kampung

Ilustrasi / foto: pexels.com

Pendidikan

Full Day School Tidak Cocok di Kampung

Full day school tidak tepat diterapkan di sekolah-sekolah yang berada di lingkungan dimana pendidikan keluarga dan lingkungan masih menjadi faktor utama dalam membangun karakter anak.

Kebijakan full day school yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk pendidikan dasar, dalam hal ini SD dan SMP, baik untuk sekolah negeri maupun swasta, menurut saya masih perlu dikaji kembali. Pasalnya, meskipun kebijakan ini bertujuan untuk membangun karakter peserta didik, tetapi kesannya kebijakan ini justru bertentangan dengan pembangunan karakter yang selama ini justru telah dibangun dan berjalan dengan baik di sekolah-sekolah di daerah.

Menteri Pendidikan, Muhajir Efendi mengatakan, “Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja.” Di (UMM), Minggu (7/8/2016). Menurutnya, jika siswa tetap berada di sekolah, siswa dapat menyelesaikan tugas sekolahnya, belajar agama dan mengaji, sampai di jemput orang tuanya. (Kompas.com)

Alasan ini menurutnya saya terkesan mengabaikan praktik pendidikan di daerah, di kampung-kampung, dimana selain di sekolah (SD dan SMP) anak-anak juga masih aktif mengikuti pendidikan agama, seperti mengaji pada guru-guru agama di kampung. Sebagai contoh, di Luaor, tempat saya lahir dan dibesarkan, sampai saat ini kegiatan anak-anak sekolah setelah shalat subuh itu adalah belajar mengaji pada guru mengaji. Kegiatan belajar mengaji pada guru mengaji ini akan kembali dilakukan anak, sore, setelah pulang sekolah.

Terlepas dari pendidikan karakter, dengan diterapkannya kebijakan full day school ini juga akan berdampak pada hilangnya sumber pendapatan guru-guru agama, guru mengaji, dna TPA yang ada di kampung yang selama ini hidup dari uang iuran orang tua anak yang ikut belajar di tempatnya.

Terkait pendidikan karakter, saya sendiri merasa, di kampung pendidikan karakter justru lebih banyak di dapatkan di rumah (keluarga) dan di lingkungan tempat tinggal. Pasalnya, berbeda dengan di kota-kota yang mayoritas orang tua bekerja kantoran, di daerah dan kampung seperti tempat saya tinggal, kebanyakan orang tua berkerja sebagai petani, nelayan, dan profesi-profesi lain yang justru jika anak dapat memiliki waktu lebih banyak di rumah akan lebih membantu bagi orang tua. Misalnya, anak yang orang tuanya petani di kampung, sepulang sekolah bisa membantu orang tuanya di kebun.

Aktivitas-aktivitas anak yang kemudian dapat membantu orang tua dan ikut aktif di lingkungan tempat tinggal ini yang menurut saya dapat membentuk karakter siswa. Bukan dengan memberikan pendidikan full day school, yang kemudian mengurangi waktu anak bersama orang tua, membantu dan belajar dari orang tua.

Jadi jika alasannya ingin memberikan pendidikan karakter untuk anak, maka full day school tidak tepat di terapkan di sekolah-sekolah di daerah. Terutama di sekolah-sekolah yang berada di lingkungan dimana pendidikan keluarga dan lingkungan masih berjalan dengan baik dalam membangun karakter anak.

Baca Selengkapnya
Artikel Terkait
Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!