Connect with us

Mimpi Pemkab Majene dan Cerita Peternak Kambing

Ilustrasi / foto: pexels.com

Politik

Mimpi Pemkab Majene dan Cerita Peternak Kambing

Bagaimana program “kawasan ternak terpusat” Pemkab Majene memberi dampak positif bagi warga Kabupaten Majene yang selama ini berprofesi sebagai peternak?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca sebuah berita di salah satu media online Sulawesi Barat terkait upaya khusus Pemkab Majene untuk melakukan pengembangan ternak kambing berbasis wilayah. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti keputusan Menteri Pertanian Tahun 2016 yang menetapkan Kabupaten Majene sebagai sentra pengembangan kambing nasional (Mandarnews.com).

Rencananya, pemerintah akan mengembangkan kawasan ternak terpusat di Desa Adolang, Kecamatan Pamboang dengan lahan seluar 35 hektar dan dilengkapi dengan kandang dan hijauan pakan ternak.  Tidak disebutkan seperti apa pengelolaan kawasan ternak terpadu ini. Apakah dikelola oleh pemerintah sebagai BUMD atau diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat dan pengawasannya dilakukan oleh pemerintah.

Satu hal yang pasti dan juga diamini oleh pemerintah daerah Kabupaten Majene bahwa Majene merupakan salah satu kawasan peternakan kambing sejak dulu, bahkan sampai saat ini, Majene masih sering memasok kambing ke luar daerah Majene, seperti ke Kalimantan. Dikutip dari media yang sama, Pemkab Majene mengaku bahwa Majene setiap bulannya memasok 400 sampai 500 ekor kambing setiap bulannya ke luar daerah. Meskipun tidak dijelaskan dari mana Pemkab Majene mendapatkan angka ini.

Mimpi Pemkab Majene mengembalikan kejayaan peternakan di Majene

Sebagai warga Majene dan sebagai anak yang lahir dan besar dari keluarga peternak, saya sangat mengapresiasi upaya pemerintah yang ingin mengembalikan kejayaan peternakan di Kabupaten Majene.

Pertanyaan saya untuk pemerintah–dalam hal ini Pemkab Majene, Bagaimana program “kawasan ternak terpusat” ini memberi dampak positif bagi warga Kabupaten Majene yang selama ini berprofesi sebagai peternak?

Jangan sampai upaya untuk mengembalikan kejayaan peternakan Majene justru mengabaikan peternak-peternak kecil yang ada di Kabupaten Majene. Untuk hal ini sebenarnya saya tidak ingin terlalu banyak berkomentar, mengingat sistem pengelolaan dan bagaimana nantinya program “kawasan ternak terpusat Kab. Majene” ini masih belum jelas seperti apa.

Pemkab Majene di mana saat tengkulak menguras keringat para peternak?

Sejujurnya saya heran ketika membaca berita dimana Pemkab Majene dengan jelas mengatakan bahwa saat ini setiap bulan sedikitnya 400-500 kambing dari Majene dipasok ke luar daerah. Saya heran karena Pemkab Majene memiliki data  seperti ini, yang berarti selama ini Pemkab Majene memperhatikan perkembangan peternak-peternak kambing di daerah. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah “dimana Pemkab Majene saat para tengkulak menguras keringat para peternak?”

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwa saya lahir dan besar di keluarga peternak. Kakek, nenek, ibu, ayah, paman, dan tante saya peternak. Bahkan saya sendiri ketika SD dan SMP sempat ikut beternak kambing yang akhirnya berhenti karena harus sekolah ke kota kabupaten. Yang saya tau, ada banyak di kampung saya, di Luaor, ada banyak peternak. Diantara mereka banyak yang kemudian berhenti dan lebih memilih melaut–mencari teripang–karena memang saat ini pekerjaan sebagai peternak tidak menjanjikan. Beberapa orang memilih menjadikan beternak sebagai pekerjaan sampingan karena alasan yang sama.

Saya memang tidak memiliki data dalam bentuk angka yang seperti Kepala Bappeda Majene sebutkan. Tetapi saya bisa mengantar pembaca mengunjungi kebun-kebun di kampung saya di Luaor, Kec. Pamboang untuk melihat kandang-kandang kambing yang kosong hampir roboh yang sudah lama tidak digunakan. Mengunjungi orang-orang yang dulu beternak dan sekarang menjadi nelayan teripang, dan mengunjungi orang-orang yang memilih menjadikan beternak sebagai sampingan.

Apakah memang beternak tidak menguntungkan?

Jawabannya sangat jelas, beternak sangat menguntungkan. Tetapi bagi tengkulak atau pedagang kambing, tidak bagi peternak. Buat yang belum tau, tengkulak/pengepul atau pedagang kambing adalah pedagang yang membeli kambing langsung dari peternak dan menjualnya ke kota atau perusahaan.

Di kampung saya tinggal yang diuntungkan dari kambing bukanlah peternak, tetapi tengkulak. Karena jumlah tengkulak hanya beberapa di kampung, tengkulak memiliki kekuatan tawar yang tinggi. Sehingga peternak tak punya banyak pilihan dan akhirnya menjual murah ternak mereka. Bahkan ada beberapa praktik tengkulak yang mengambil ternak peternak terlebih dahulu dan membayarnya setelah ternak tersebut laku atau dibayarkan setelah berbulan-bulan. Jadi tidak heran kalau di kampung yang kaya bukanlah peternak tetapi tengkulak.

Kasus tengkulak ini sebenarnya bukan hanya untuk kasus kambing saja. Tetapi untuk banyak kasus, seperti sapi, ikan, dan lain-lain.

Sedikit saran dari anak peternak

Pendapat saya, sebenarnya masalahnya cuma satu, yaitu “pasar”. Meskipun di daerah banyak hasil peternakan, perkebunan, hasil laut, dan berbagai hasil produktif lainnya, tetapi jika tidak ada pasar untuk menerima atau membeli hasil-hasil ini, tidak ada gunanya.

Saran saya, jika ingin mengembalikan kejayaan peternakan di Majene, Pemkab Majene terlebih dahulu harus menyiapkan pasar yang bisa menampung hasil ternak dari peternak-peternak yang ada di Kabupaten Majene. Tentu saja dengan harga yang wajar dan tidak jauh berbeda dari harga ternak di pasaran. Adapun bentuknya bisa berupa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau melalui koperasi peternak yang pendiriannya dimotori oleh pemerintah daerah.

Tentu saja dengan adanya BUMD atau koperasi yang dapat membeli kambing peternak dengan harga yang wajar, akan mendorong semangat warga Majene untuk kembali menekuni peternakan dan menghidupkan kembali lahan-lahan yang selama ini mati ditinggal untuk pekerjaan lain.

Terkait masalah produktivitas peternak di Kabupaten Majene, Pemkab Majene dapat memberikan bibit kambing yang unggul kepada peternak, membuat program pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan peternak, menjalankan program pemeriksaan kesehatan gratis untuk ternak, dan aktif memperkenalkan dan membuat program percontohan penerapan teknologi baru dalam peternakan bagi peternak.

Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!