Connect with us

Belajar Bisnis dari Anak-Anak

Anak jualan / Foto: Steven, www.flickr.com/photos/stevendepolo/

Wirausaha

Belajar Bisnis dari Anak-Anak

Belajar dari apapun, kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun. Termasuk belajar bisnis dari anak-anak.

Orang bijak berkata bahwa belajar adalah proses yang tidak ada habisnya dalam hidup. Bahkan ada yang bilang tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat. Dengan kata lain, kita harus selalu belajar–sampai kita tidak bisa belajar lagi. Belajar dari apapun, kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun. Termasuk dalam urusan bisnis atau usaha.

Belajar dari orang-orang yang telah sukses dalam usahanya adalah hal yang paling logis dilakukan oleh para pengusaha atau bagi mereka yang memiliki niat untuk memulai usaha. Kenapa? Tentu saja karena mereka telah terbukti berhasil. Tapi apakah itu cukup?

Saya tidak akan menjawab cukup tidaknya belajar dari kesuksesan seseorang. Saya hanya ingin kembali menegaskan kalimat pada paragraf pertama yang sengaja saya tulis tebal, “Belajar dari apapun, kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun”. Jelas apapun disini maksudnya bisa apapun, baik itu kejadian, alam, hewan, tumbuhan, dll. Kebanyakan orang biasa menyebutnya dengan kalimat “ambil hikmahnya saja”. Sedangkan kata kapanpun dan dimanapun jelas maksudnya tidak peduli kapan dan dimanapun tempatnya, kita harus tetap belajar.

Nah, yang manarik dan kadang orang abaikan adalah kata “dengan siapapun” (sengaja saya tulis dengan huruf tebal, miring, dengan garis bawah, biar lebih jelas kalau kata ini penting). Disini jelas sekali maksudnya bisa dengan siapa saja, baik itu orang yang telah sukses, yang gagal, anak-anak, bahkan dengan musuh sendiri. Sayang, karena ego, kebanyakan orang mengabaikan kata ini.

Belajar bagaimana memulai usaha dari anak-anak

Terus apa yang bisa kita pekajari dari anak-anak tentang usaha? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya terlebih dahulu ingin bercerita.

Di kampung, saya punya keponakan yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Suatu hari datang ke rumah, dan menemui neneknya–ibu saya. Waktu itu dia meminta untuk di bantu membuat permen dari gula merah dan berniat menjualnya.

Singkat cerita, Ibu saya setuju dan membantu keponakan saya membuat permen. Ya, membantu, karena yang sebenarnya lebih banyak bekerja untuk membuat permen ini ya koponakan saya. Permen dibungkus dengan daun pisang kering dan dimasukkan ke dalam kotak kecil yang bisa ditenteng kemana-mana. Sehingga sambil bermain, keponakan saya bisa menjual permen ke teman-temannya.

Dari penjualan permennya, koponakan saya ini bisa mendapatkan beberapa ribu rupiah setiap harinya. Itu sudah dipotong uang modal gula merah yang digunakan sebagai bahan dasar.

Pelajaran yang bisa kita petik dari cerita ini adalah bahwa memulai usaha itu tidak selalu serumit yang kita pikirkan. Terkadang sesuatu yang rumit itu rumit karena kita sendiri yang membuatnya rumit. Lihatlah anak-anak dengan begitu mudahnya memulai usaha, bukan hanya keponakan saya, tapi masih banyak anak-anak lain.

Ada anak-anak yang usaha rental komik hanya dengan modal mendatangi rumah teman-teman di kompleksnya dan menawarkan untuk menyewa komiknya. Ada yang menjual jus di halaman rumahnya hanya dengan meja dan peralatan sederhana lainnya, dan masih banyak lagi.

Sederhana saja, lakukan!

Semakin belajar orang akan semakin berhati-hati dalam bertindak. Termasuk dalam bisnis, semakin kita belajar tentang usaha, bagaimana orang berhasil dan bagaimana orang gagal, kita akan semakin berpikir bahwa membangun usaha itu tidak semuda yang kita pikirkan sebelumnya. Kita selalu berusaha memperhitungkan sesuatu dengan baik dan hati-hati, termasuk merencanakan usaha yang akan kita lakukan. Tidak ada yang salah dari hal ini. Tapi sadar atau tidak, hal inilah yang kadang justru menarik kita kembali ke belakang dan membuat kita susah untuk memulai usaha.

Kenapa anak-anak bisa dengan mudah memulai usaha?

Jawabannya simpel saja, karena ketika mereka punya ide, yang mereka pikirkan selanjutnya adalah bagaimana memulainya. Dan benar, mereka memulainya. Masalah gagal atau berhasil, itu urusan belakangan. Mereka (anak-anak) tidak harus punya toko untuk jualan, bisa hanya dengan meja apa adanya, bisa di halaman rumah, atau sambil main dengan teman-temannya.

Untuk menjual minuman mereka tidak harus punya mesin pengemas minuman, cukup dengan gelas plastik. Unutk membungkus permen, mereka tidak perlu mesin pengemas permen atau plastik yang didesain khusus untuk membungkus permen tersebut.

Mulai dari kecil, nikamati proses, belajar dan sempurnakan

Saya tidak bilang belajar dari anak-anak untuk memulai usaha dari kecil dan dari kesederhanaan adalah akhir, bagi saya itu adalah proses dan kita harus terus belajar. Mungkin saja kita memulai berjualan permen dengan bungkus daun pisang kering dan menjualnya hanya di lingkungan tetangga saja. Namun pada akhirnya, kita belajar bagaimana memproduksi permen dengan lebih baik, memperbaiki kemasan, memperluas pasar bukan hanya di lingkungan tetangga, tapi ke beberapa daerah. Tentu saja itu mungkin, selama kita mau belajar.

Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!