Connect with us

Boyang: Rumah Tradisional Mandar

Boyang / Foto: Aswad

Seni Budaya

Boyang: Rumah Tradisional Mandar

Ada dua upacara yang berkaitan dengan boyang yang dilkukan setelah proses pembanguna rumah (boyang) telah selesai, yaitu upacara mendai’ di boyang dan upacara mattera boyang.

Boyang (id: rumah) adalah rumah tradisional masyarakat Mandar, Sulawesi Barat yang masih banyak dugunakan oleh masyarakat Mandar, Sulawesi Barat yang bermukim di desa-desa di Wilayah Sulawesi Barat. Sayangnya beberapa tahun terakhir penggunaan boyang mulai ditinggalkan dan digantikan dengan rumah-rumah dari bata. Ini terjadi terutama di wilayah kota kabupaten dan sekitarnya. Untuk mengetahui tentang boyang, berikut saya akan ceritakan sedikit wawancara saya dengan salah seorang tukang kayu yang sering membuat boyang.

Proses Pemesanan

Untuk memiliki sebuah boyang , ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Diantaranya dengan cara membeli boayang yang telah jadi atau dengan cara membangunnya dari awal. Untuk proses pembuatan atau pembangunan rumah benar-benar dari nol dikenal beberapa istilah. Yaitu tukang, Sando boyang dan topo boyang.

  • Topo boyang (pemilik rumah) adalah orang yang memesan rumah kepada tukang. Biasaya pemesan ini telah memiliki kayu bahan untuk membangun rumah yang kemudian diserahkan kepada tukang untuk dikerjakan.
  • Tukang (tukang kayu) adalah orang yang nantinya mengerjakan pembangunan rumah dari awal sampai akhir. Tukang dikepalai oleh seorang kapala tukang.
  • Sando boyang adalah orang yang bertugas melaksanakan beberapa upacara yang berkaitan dengan proses pembangunan rumah mulai dari awal pembagunan sampai rumah selesai dibangun. Sando boyang biasanya juga adalah seorang kapala tukang (kepala tukang). Tergantung dari sang pemilik rumah mempercayakannya kepada siapa.

Proses pembangunan rumah pertama ditandai dengan proses pemesanan rumah kepada Kepala tukang. Biasanya pertemuan ini akan membahas sejauh mana pembangunan rumah ini akan dilakukan, waktu pembangunan, bahan yang dibutuhkan dan budget serta biaya pembangunan. Setelah terjadi kesepakatan antara Kepala tukang dengan pemilik rumah. Kepala tukang akan menentukan hari yang baik untuk menentukan waktu untuk memulai proses pembangunan rumah.

Proses Pembangunan

Boyang (rumah) memiliki ukurang besar kecil tertentu layaknya rumah pada umumnya. Biasanya ukurang besar kecilnya rumah di Mandar ditentukan dari jumlah tiang rumah (arriang). Pada umumnya jumlah tiang rumah di Mandar berjumlah 9 (paling kecil), 12, 16, 20 dan 25. Ini belum termasuk dapur (paceko) dan teras rumah (sondo-sondong).

Prose pembangunan dimulai dengan pembuatan tiang rumah (arriang) sesuai dengan jumlah tiang rumah yang akan dibuat. Kemudian kepala tukang akan memilih salah satu tiag dengan kualitas yang baik untuk dijadikan sebagai tiang pusat (papposi’). Selain tiang rumah (arriang) pada fase ini juga dibuat struktur rangka rumah lainya sehingga kerangka rumah dapat berdiri dengan sempurna.

Kerangka rumah yang telah berdiri sempurna, pada tiang pusat (papposi’) akan dipasangi beberapa sajian seperti pisang yang masih utuh tangkai dan sebagian batangnya.

Catatan: Papposi’ adalah tiang kedua dari tiang depan rumah (tidak termasuk teras) dan tiang kedua dari tiang pe’uluangPe’uluang adalah sisi rumah yang nantinya akan menjadi tempat untuk deretan kamar tidur sedangkan tambing adalah sisi rumah yang nantinya akan digunakan sebagai ruangan tamu.

Selanjutnya pembangunan rumah akan dilanjutkan dengan pemasagan atap (ate’), lantai (lappar) dan dinding (rinding).  Atap rumah tradisional etnis Mandar terbuat dari daun sagu (daun rumbiah) yang disusun sedemikian rupa dengan rangka bambu. Dipasang dengan cara mengaitkannya dengan menggunakan tali dari kulit rotan–Sekarang pemasangan dilakukan dengan mengaitkannya dengan paku yang sengaja dipasang tidak sempurna. Lantai (lappar) tebuat dari bahan kayu atau bambu. Apabila mengguankan kayu, biasaya pada ruangan-ruangan tertentu seperti ruangan tamu dan dapur akan dikasih celah-celah kecil pada lantai. Tujuannya sebagai tempat pertukaran udara dan yang pasti agar kotoran seperti debu bisa dengan mudah dibersihkan dengan menyapunya melalui celah-celah tersebut.

Pembuatan Tangga

Urusan pembuatan tangga (ende’) mungkin kelihatan menjadi urusan yang paling sederhana dalam proses pembuatan rumah ini. Namun jangan salah, urusan pembuatan tangga ternya tidak semudah yang kita bayangkan. Ende’na boayang (tangga rumah) di daerah Mandar pada umunya bejumlah 7, 9 dan 11 anak tangga tergantung dari besarnya ukuran rumah.

Ada beberapa kesalahan yang serin terjadi dalam proses pembuatan tangga (ende’) sehingga proses pembuatan tangga tidak dapat dianggap sepele, diantaranya:

  • Ende’ Lembar yaitu jarak anak tangga pertama ke anak tangga tengah dan tengah ke akhir sama. Menurut kepercayaan masyarakat Mandar tangga jenis ini bisa-bisa menyebabkan kematian jika kita jatuh dari tangga tersebut.
  • Titollo dan maakke’ititollo atau tumpah yaitu permukaan anak tangga tidak rata atau miring, sehingga akan licin dan mudah jatuh bagi penggunanya.
  • I’da Me’ende yaitu  tinggi atau jarak antara anak tangga pertama, ke anak tangga kedua sampai terakhir, jaraknya tetap. Dalam kepercayaan mandar, tangga ini tidak bagus karena tidak menunjukkan peningkatan.

Yang Lain tentang Boyang

Kolong rumah (naonna boyang) pada awalnya merupakan tempat penyimpanan, seperti untuk menyimpan alat-alat pertanian, dll. Namun seiring perkembangan zaman kolong rumah berubah fungsi sebagai garasi bahkan sekarang tidak sedikit yang menjdikan kolong rumah sebagai ruangan layaknya rumah dua lantai.

Upacara

Ada dua upacara yang berkaitan dengan boyang yang dilkukan setelah proses pembanguna rumah (boyang) telah selesai, yaitu:

  • Upacara mendai’ di boyang yaitu upacara yang dilakukan sang pemilik rumah ketika pertama kali menempati rumah yang baru saja di bangunnya. Sejenis acara syukuran kearena telah selesainya proses pembangunan rumahnya.
  • Upacara mattera’ boyang adalah upacara yang dilakukan pemilik rumah yang tidak ditentukan waktu pelaksanaannya secara pasti. Sesuai dengan namanya, mattera boyang dari kata tera’ atau cera’yang berati darah. Maka dalam upacara ini dilakukan pemotongan ayam. Dalam upacara ini akan disediakan 3 jenis sokkol (nasi ketang hitan, putih dan merah), telur, cucur, tujuh jenis kue kering khas Mandar (buah sappang, ode-ode, tuppi-tuppi, kalungapas, atupe’ nabi dan atupe’ biasa).
    Menurut kepercayaan masyarakat Mandar, rumah yang tidak di tera’ atau melkasanakan upacara mettera’ boyang, pemiliknya akan diganggu oleh penjaga rumah.
Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!