Connect with us

Lagu-Lagu Rakyat di Tanah Mandar

Kacaping, salah satu alat musik tradisional Mandar / Foto: Aswad

Seni Budaya

Lagu-Lagu Rakyat di Tanah Mandar

Ayangan tipalayo adalah lagu yang dinyanyikan dengan iringan kecapi sebagai bentuk perasaan rindu kepada kekasih. Ayangan tipalayo dinyanyikan oleh laki-laki dan biasanya dinyanyikan pada saat bulan purnama dikala seseorang sedang rindu kepada sang kekasih.

Hampir setiap daerah di Indonesia mungkin memiliki lagu-lagu daerah klasik yang terus berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban masyarakat setempat. Begitupun di tanah Mandar, ada banyak lagu-lagu atau ayangan klasik yang terkadang orang menyebutnya sebagai lagu rakyat. Dalam masyarakat Mandar, dikenal beberapa jenis ayangan atau lagu yang memiliki fungsi dan tujuan masing-masing [1] . Masing-masing ayangan ini menggukan instrument musik tradisional tertentu seperti Kecaping, Sattung, Suling, keke, Gesoq, Ganrang, gong, tawaq-tawaq, calong, dan katto-kattoq. Berikut adalah beberpa jenis ayangan yang ada dikenal oleh Masyarakat Mandar [2] :

Ayangan Peondo

Ayangang peondo sesuai dengan namanya “peondo” dalam bahasa mandar yang berarti orang yang mengayunkan ayunan. Maka lagu atau ayangan ini dinyanyikan pada saat mendurkan bayi baik itu menidurkan dengan ayunan maupun tidak. Ayangan peondo mungkin lebih cocoknya disebut sebagai lagu untuk menina-bobokkan anak.

Ayangan Meqdaq

Ayangan meqdaq adalah lagu yang dinyanyikan dengan iringan petikan kecapi yang dimainkan sambil menyidir pemuda yang kena sindiran masuk di tengah arena peqoro untuk mappaccoq. Acara meqdaq biasanya dilakukan pada waktu malam dan biasanya akan berlangsung sampai larut malam.

Ayangan Toloq

Ayangan toloq adalah lagu yang dinyanyikan dengan iringan keke (sejenis suling) dan kecapi. Acara yang menampilkan ayangan ini biasanya diadakan pada waktu malam hari. Isi nyanyian yang dibawakan dalam lagu ini menggambarkan atau memaparkan suatu kejadian atau peristiwa, baik berupa biografi seseorang maupun cerita-cetira romantis.

Ayangan Tipalayo

Ayangan tipalayo adalah lagu yang dinyanyikan dengan iringan kecapi sebagai bentuk perasaan rindu kepada kekasih. Ayangan tipalayo dinyanyikan oleh laki-laki dan biasanya dinyanyikan pada saat bulan purnama dikala seseorang sedang rindu kepada sang kekasih. Ada dua jenis ayangan tipalayo, yaitu :

  1. Tipalayo Biasa
  2. Tipalayo Canandi

Menurut cerita, ayangan tipalayo pertama kali muncul atau dinyanyikan di Luaor, sebuah desa nelayan di Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, oleh seorang pemuda pemuda nelayan.
Pada mulanya pemuda nelayan ini ketika sedang di laut lepas untuk menangkap ikan ingin melawan rasa kantuk dan rasa rindu yang mendalam kepada sang kekasih pujaan yang ada di kampung halaman. Karena kebetulan perawakan tubuh sang kekasihnya tinggi semampai, maka dengan spontan menyanyilah sang pemuda tersebut dengan ayangan tersendiri yang dimulai dengan kata “tipalayo”. Kosa kata Tipalayo ini terdiri dari dua buah kata dasar yakni ; “tipa” dari kata matipa yang artinya lemah lembut atau semampai , “layo” yang bermakna sama dengan malayo atau malinggao yang artinya tinggi. Jadi “tipalayo” artinya “tinggi semampai”.

Lagu ini selanjutnya di tanah Mandar popular dengan nama “ayangan tipalayo”. Demikian populernya ayangan ini, maka kata Tipalayo ini diabadikan.

Ayangang Nasauaq Di Alangang

Ayangan nasauaq di alangang adalah lagu untuk menjemput Ammana I Wewang—seorang raja dan sekaligus seorang pahlawan di tanah mandar—yang diasingkan ke Belitung karena menentang penjajah Belanda.

Ayangang Buraq Sendana

Ayangan buraq Sendana adalah lagu yang dinyanyikan oleh permaisuri raja Balanipa yang bergelar Toniallung di Kaeli. Lagi ini diciptakan sendiri oleh sang permaisuri sebagai bentuk rasa rindunya kepada sang suami yang tak kunjung kembali ke Balanipa.

Ayangan Sayang-sayang

Ayangan saying-sayang atau sekarang lebih dikenal dengan saying-sayang merupakan lagu yang menyatakan perasaan rindu dan cinta kasih di kalangan muda-mudi. Lagu ini biasanya dibawakan oleh dua orang penyanyi secara berbalasan dan diiringi ndengan petikan gitar. Saat ini, ayangan sayang-sayang masih bisa ditemukan di beberapa daerah di Mandar, namun hanya sedikit yang masih ikut melestarikan jenis lagu ini.

Lagu Klasik Lainnya

Selain ayangan di atas, ada juga beberapa lagu klasik lainya yang terkenal di mandar, seperti : Andu-andu ruqdang (berasal dari kata andiq-andiq duruqdang), Kelleqmaq, Gayueq, Kanjilo dll.

Selain lagu klasik di atas, banyak juga kategori lagu-lagu daerah Mandar yang masik tergolong kalsik namun sudah banyak dinyanyikan oleh para seniman-seniman Mandar tentunya dengan istrumen modern. Lagu-lagu tersebut antara lain : Battu Timor, Diwattu Talloqbeqna, Passurunggaqi Salili, Tengga-tenggang Lopi, Tunggara Pallariko, Duriang Anjoro Pitu, Rapang Daiq Timbogading, Pappukaq dll.


[1]: id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandar
[2]: datastudi.wordpress.com/2008/08/17/budaya-mandar

Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!