Connect with us

Pemuda Dalam Buaian Politik Praktis

Ilustrasi / foto: pexels.com

Politik

Pemuda Dalam Buaian Politik Praktis

Idealisme adalah keistimewaan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda – Tan Malaka

Tan Malaka pernah berkata, idealisme adalah keistimewaan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Pertanyaan yang harus kita jawab ialah mengapa pernyataan Tan Malaka diatas terdapat kata terakhir.

Tan Malaka sejatinya takut jika idealisme sudah tidak terpatri lagi tubuh pemuda, maka pemuda hanya akan menjadi benalu di zamannya. Mengapa idealisme begitu istimewa bagi Tan Malaka? Sebab, hanya idealismelah yang mampu meruntuhkan segala bentuk penindasan dan dehumanisasi yang kerap dilakukan oleh para penguasa.

Ketakutan Tan Malaka dengan menempatkan idealisme pada posisi yang terakhir kini terjawab sudah. Keterlibatan pemuda dalam politik praktis kini nyata terlihat.

Di era modern saat ini, pemuda kian hari kian masif terlibat pada politik praktis. Pemuda yang semestinya harus fokus belajar, berjuang untuk kedaulatan rakyat, melepaskan rakyat dari kesengsaraan ekonomi dan politik justru banyak terlihat duduk bersanding dengan para aktor-aktor politik.

Apa yang menjadi penyulut konflik tersebut? Salah satunya dapat kita lihat dari lingkungan belajar (Kampus). Kampus saat ini sudah tidak ingin melihat mahasiswanya tumbuh dengan gagasan dan idealisme yang efektif dan produktif. Tetapi kampus saat ini telah menjadi ruang-ruang komersil yang hanya membincang soal untung rugi.

Jika pemuda tak pernah sadar akan fenomena saat ini, maka tak ada lagi yang patut kita harapkan untuk membangun peradaban bangsa dan negara. Pemuda semestinya harus diberi jimat dalam menangkal politik praktis tersebut, salah satunya ialah pendidikan politik.

Dalam Press Release of World Population Day tahun 2014 yang mengatakan bahwa, di Indonesia generasi muda dengan rentang umur 16-30 tahun mencapai angka 62,3 juta (26, 3 %) dari total penduduk  Indonesia pada tahun 2010 dan 64 juta (28 %) di tahun 2013.

Angka ini diproyeksikan meningkat ke 70 juta pada tahun 2035. Banyak survey menyebutkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang tidak dilibatkan dalam proses pembangunan demokrasi. Karena itu muncullah kritik tajam bahwa tidak ada satu sistem politik pun yang dapat mengklaim diri legitimate jika generasi muda diekslusi dan tidak dilibatkan dalam proses-proses demokrasi itu.

Survey diatas menunjukkan bahwa, pemuda jarang dilibatkan dalam pembangunan politik yang keadaban. Karena kasus tersebut, secara pribadi pemuda lebih memilih untuk terjun ke arena-arena politik yang diselimuti oleh politik praktis.

Pemuda sebagai tonggak peradaban mempunyai peran yang begitu besar dalam memperjuangkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, majunya sebuah negara itu ditentukan oleh pemuda. Olehnya itu, dalam konteks ini masalah tersebut dapat diidentifikasi bahwa politik praktis adalah syarat dalam pelemahan demokrasi.

Di Sulawesi Selatan, masifnya politik-politik praktis yang digerakkan oleh para pemuda. Hal tesebut dapat dilacak dengan mudah karena dilihat dari ruang-ruang media sosial. Banyaknya para kaum muda jutru lebih bangga berfoto dengan para elit dan aktor-aktor politik.

Mereka tanpa sadar bahwa, jika fenomena tersebut semakin sering kali mereka lakukan. Maka apa yang dikatakan oleh Tan Malaka diatas bahwa idealisme saat ini sudah tidak cocok lagi ditempatkan pada posisi yang terakhir.

Kita mesti melacak, kira-kira hal apa saja yang patut dijaga oleh para pemuda untuk menyelamatkan bangsa dan negara ditengah buaian politik praktis yang nyata terjadi.

Pilkada 2018 telah usai, kini banyak mata mulai melirik ke Pileg dan Pilpres tahun 2019. Kita akan melihat sejauhmana para pemuda tetap konsisten dan komitmen dalam menjaga idealismenya atau pernyataan Tan Malaka diatas akan terkubur dalam-dalam bersama dengan penciptanya.

Baca Selengkapnya
Artikel Terkait
Fathullah Syahrul

Anggota Bidang Pendidikan dan Advokasi di Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulawesi Selatan

2 Comments

2 Comments

  1. Nazar

    27 Jul 2018 at 9:24 pm

    Tan Malaka merupakan salah satu aktor terpenting dalam sejarah kominteren perwakilan indonesia.. rasanya sangat naik jika kita melepas roh Marxisme dari segala sepak terjangnya … Ada hal yang menurut saya dilupakan oleh penulis bung @fathullah Syahrul, di atas,. Menyoal posisi idealisme dalam tubuh Marxisme, sebab secara filosofis justru idealisme menjadi sampah dalam diskursus keilmuannya. Kita semua tahu Marxisme ,dalam hal ini Tan Malaka menjadi representasi Marxian dari Indonesia.. bertumpuk atas dasar MATERILISME DIALEKTIKA DAN HORTORIS (MDH)..

    posisi idealisme dalam tubuh MDH itu lah yang membuat saya ingin bertanya secara serius. Bagaimana telaah filosof Tan Malaka kita tarik darinya.. ini penting.. sebab secara aksiomatik, semua gerakan perjuangan Marxian,itu bertumpuk pada logika materialisme, .. tidak ada ruang idealisme dalam tubuh itu..

    Saya kira penulis , perlu menjabarkan posisi IDEALIS ini dari tubuh Gerakan kaum kiri(Marxian) agar public tidak salah menduga, yang benar yang mana, idealis, atau materialisme gerakan sosial,atau ada jawaban lain..

    Top bung.. buat penulis..

    • Fathullah Syahrul

      Fathullah Syahrul

      27 Jul 2018 at 10:03 pm

      Sejatinya memang representasi dari pemikiran Marx adalah Tan Malaka. Jika Marx menggagas soal MDH dan Tan Malaka menggagas soal Madilog, tentu itu sebagai aksi dan refleksi dalam sebuah gagasan, pemikiran dan ideologi. Namun, pernyaataan Tan Malaka soal idealisme tidak serta merta kita generalisasi bahwa hal tersebut mengambil pemikiran Marx.

      Karena dalam pendekatan teritorial, Marx dan Tan Malaka bukan orng yang sama atau tidak berada dalam tempat yang sama, antara Barat dan Timur. Tan Malaka menyebut bahwa keistimewaan terakhir yang dimiliki oleh pemuda adalah idealisem, mengapa? Mari melacak satu per satu.

      Idealisme yang maksud oleh Tan Malaka adalah idealisme untuk melawan dehumanisasi, segala bentuk penjajahan dll. Dan itu terbukti para pemuda turut andil terhadap bangsa ini. Siklus perlawanan pemuda dimulai pada tahun 1901, 1908, 1928, 1945 dan 1998. Pasca reformasi, kita tidak melihat lagi hal demikian. Kenapa? Jelas dalam tulisan diatas.

      Jadi kita mesti membedakan paham Marx dan Paham Tan Malaka dengan menggunakan pendekatan teritorial. Dalam tulisan itu saya mencoba menggiring opini bahwa, bgmn gambaran dan atau gagasan, serta wacana orang timur dalam melihat dan membaca fenomena di timur (Tan Malaka) bukan dengan pandangan orang barat melihat timur (Marx).

      Itulah sebabnya, representasi dari MDH Marx yang digunaka Tan Malaka dengan Madilog, menempatkan logika dalam gagasannya. Jadi, jika kita membedah idealisme menggunakan pendekatan Marx saya rasa tidak nyambung. Krn tulisa saya hanya mencoba menggiring opini soal eksistensi kaum muda saar ini hehehe

      Terimakasih atas masukannya

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!