Connect with us

Potret Kemiskinan Dalam Kacamata “Cinta”…

Ilustrasi / foto: farm8.staticflickr.com

Sosial

Potret Kemiskinan Dalam Kacamata “Cinta”…

Menggelitik hati saat dimana kemiskinan itu dijadikan sebagai alat politik pemantik massa, bukan dasar cinta.

Kemiskinan adalah suatu kondisi kekurangan materi, berupa bahan makanan, pakaian dan tempat tinggal (hunian layak). Kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, “antara kemiskinan, dimiskinkan atau memiskinkan” tentu cara pandang akan melahirkan statement yang berbeda pula.

Lewat lorong kata ini aku mencoba melihat kemiskinan dari kacamata “cinta”. Jeritan-jeritan jiwa disetiap ruas jalan bagai jamur kita temukan, semua sepakat “kemiskinan bukanlah tontonan menarik”, apatahlagi dijadikan sebagai “ajang mengangkat popularitas”, isu kemiskinan pula sangat “sexi” untuk dijadikan sebagai “jualan politik” bagi para kontestan politik.

Menggelitik hati saat dimana kemiskinan itu dijadikan sebagai alat politik pemantik massa, bukan dasar cinta. Namun pernahkah sedetik hadirkan hati sejenak merenung kenapa terjadi “kemiskinan berantai” sementara dari paketan program penuntasan kemiskinan sudah tersusun rapih. Lalu ini salah siapa kawan? Saling tuding menuding, apakah ini karena para koruptor yang telah mencuri uang rakyat, atau malah tanpa sadar kita telah terjebak pada sistem yang seolah-olah, entahlah apakah ini disebabkan oleh “karma masa lalu” ahh aku sedikit mengigau, namun realita cukup terang menerobos kornea mataku, setiap hari tidak habis kata “kasihan” terlontar dari bibir, mereka tidak sebatas disirami dengan kata “kasihan”, tapi sentuhlah dengan keikhlasan cinta, bisikan kawanku “Tuhan telah mendesain tubuh kita untuk berbagi”, ungkapan ini mensugseti bahwasanya kita ini adalah “manusia” butuh “saling memanusiakan”.

Setiap jiwa dikaruniai “cinta” menarik jauh kedalam batin bahwa memang setiap jiwa butuh saling mencintai dengan ketulusan bukan cinta yang seolah-olah mencintai. Namun berbicara ketulusan itu hanya hati yang mengetahui, mengukur ketulusan tidak ada barometer yang dapat menjelaskan dengan terang tingkat ketulusan. Para pecinta tidak akan tinggal diam mendengar jeritan disekeliling, sungguh TUHAN menghadirkan cinta disetiap diri manusia, lalu aku sejenak bersyair dalam bejana bocor itu kemana para pecinta ?????

Aku mencari dan haus pula bagaikan liukan waktu yang berputar tanpa ujung pangkal, namun energiku terpacu memungut sisa-sisa semangat, disana di sudut jalan itu aku masih menemukan jiwa-jiwa pecinta walau jalanan ini masih sangatlah sunyi kawanku, aku merindu, aku menanti, Karena aku,kamu,dia, dan mereka adalah KITA. Tebarkanlah aroma cinta kawanku, semesta menyangsikan dan jangan pernah menggugat mereka yang menjerit tapi gugatan itu kita gaungkan pada mereka yang telah “kehilangan cinta”…

Semerbak wangi lelah para pecinta, menebar tanpa mencari apa-apa, dengan senyuman manis kita bersua dan saling merangkul, mengusap tangisan tanpa menambah tangis, tapi sebuah tawa semangat dan lagu “juang”.

****

Tulisan ini terkait dengan ALTAR

Anak Lontara Nusantara (ALTAR) merupakan organisasi independen berbasis sosial kemasyarakatan, pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan yang berkedudukan di Polewali Mandar.

Kenal lebih dekat dengan ALTAR, follow facebook Altar Home

Karmila Bakri

Ketua sekaligus Pengurus Komunitas Anak Lontara Nusantara (ALTAR) Polewali Mandar.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!