Connect with us

Sandeq, Belajar dari Ketenaran Pinisi

Sandeq / Foto: Aswad

Seni Budaya

Sandeq, Belajar dari Ketenaran Pinisi

Siapa yang tidak kenal pinisi?

Jika mendengar kata ‘pinisi’ mungkin kebanyakan diantara kita akan dengan mudah mengerti dan mengatakan bahwa itu adalah sebuah jenis perahu layar dari Sulawesi. Ya, nama pinisi memang sudah mendunia, desain dan ketangguhan perahu layar ini sudah banyak diakui. Tidak heran jika pinisi menjadi salah satu identitas tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Selatan, terutama masyarkat pesisirnya.

Dalam kamus bahasa Indonesia, kata ‘pinisi’ memiliki arti sebagai “perahu layar tradisional dari daerah Bone atau Buton, Sulawesi Selatan yang mempunyai dua tiang layar utama dan mempunyai tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang, digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau.

Kalau pinisi sudah sedemikian terkenalnya, bagaimana dengan ‘sandeq’?

Mungkin beberapa diantara pembaca masih ada yang bertanya-tanya, ‘sandeq’ itu apa. Sandeq adalah jenis perahu tradisional masyarakat Mandar, Sulawesi Barat yang bercadik, biasanya digunakan untuk menangkap ikan dan mengangkut barang kelontong. (baca: Sandeq)

Gaung ‘Sandeq Race’ masih terdengar samar-samar

Ketenaran sandeq jika dibandingkan dengan ketenaran pinisi memang sangatlah berbeda jauh. Walaupun mungkin semenjak resminya Sulawesi Barat berdiri pada tahun 2004, pemerintah daerah gencar memperkenalkan sandeq dengan program “Sandeq Race” yang rutin diadakan setiap tahunnya. Nama sandeq tetap terdengar samar-samar di Sulawesi, bahkan mungkin tidak terdengar di pulau lain di Indonesia.

Saya bukannya pesimistik dengan program-program pemerintah Sulawesi Barat terkait sandeq. Tapi menjadikan Sandeq Race—yang sifatnya event lokal—menjadi ajang promosi sandeq utama menurutku kurang optimal. Kegiatan seperti ini akan optimal jika sandeq sendiri sudah dikenal dan punya nama di luar Sulawesi Barat, sehingga menarik pengunjung untuk datang ke daerah.

Logikanya seperti ini, anda memperkenalkan sandeq pada masyarakat yang sebenarnya sudah mengenal sandeq dari lahir dan mungkin beberapa diantara mereka akan menganggap hal ini biasa saja.

Pemuda Sulbar harus ikut ambil bagian

Saya bukanya ingin menyalahkan program pemerintah, justru sebenarnya saya mendukung dalam beberapa hal. Yang saya ingin tekankan dalam tulisan ini adalah, seharusnya pemuda Sulawesi Barat—khususnya yang berada diluar daerah—dapat belajar dari pemuda-pemuda Sulawesi Selatan dalam memperkenalkan pinisi.

Belajar pada yang lain, kenapa tidak.

Ya, kita butuh belajar. Sebenarnya bukan hanya pada pemuda-pemuda Sulsel tapi juga pada pada pemuda-pemuda daerah yang lain, yang begitu bersemangat dalam memperkenalkan kekayaan budaya daerah asal mereka.

Saya menekankan pada Sulsel karena selain merupakan tetangga Sulbar juga terdapat persamaan dalam beberapa hal. Salah satunya yaitu kita sama-sama dikenal sebagai nelayan yang ulung.

Ada dua proyek pemuda-pemuda Sulawesi Selatan yang menurutku sukses dalam memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Selatan yang digarap oleh pemuda-pemuda Sulsel. Yaitu Demo Pinisi dan Lontara Project.

Demo pinisi yaitu kegiatan demo pembuatan kapal pinisi yang dirangkaikan dengan presentasi ilmiah mengenai kajian teknologi, estetika dan antropoligi perahu pinisi serta navigasi pelayaran tradisional Sulawesi Selatan. Sedangkan Lontara project adalah sebuah project untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan, khususnya terkait La Galigo.

Baca Selengkapnya
Artikel Terkait
Aswad Mansur

Peternak dan pelajar. Paling semangat bicara bisnis (teori), praktek nol. Tertarik dengan pengembangan bisnis dan model bisnis.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Konten tidak dapat dicopy!!