Connect with us

Ironi Tempat Sampah

Salah satu tempat sampah program di Desa Bonde Utara / Foto: Aswad

Sosial

Ironi Tempat Sampah

Bagaimana jadinya jika “tempat sampah” yang seharusnya menjadi bagian penting untuk mengatasi sampah malah menjadi “sampah”?

Ironis, mungkin jadi kata yang tempat untuk menggambarkan salah satu program Ibu-Ibu PKK Kabupaten Majene yang mewajibkan setiap rumah memiliki tempat sampah yang sampai hari ini hanya menjadi hiasan bagi sebagian besar rumah di kampung. Ya, sebut saja tempat sampah hiasan–jika tidak ingin menyebutnya sampah–karena hanya menjadi pajangan di depan rumah warga tanpa pernah digunakan.

Program satu rumah satu tempat sampah seharusnya bisa menjadi program yang sangat baik seandainya program ini dipersiapkan dengan matang. Maksudnya, Pengurus PKK Kab. Majene telah mempersiapkan sistem pengelolaan sampah yang baik. Warga membuang sampah di masing-masing tempat sampah yang telah dibuat, kemudian Pemda atau perusahaan yang ditunjuk mengambil/mengangkut sampah dan membawanya ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Faktanya, tempat sampah yang telah ada di masing-masing rumah tidak dapat digunakan. Sampah warga–seperti sebelumnya–tetap dibakar atau dibuang di laut atau sungai. Beberapa warga sebenarnya sudah mengikuti saran dari aparat desa untuk membuang sampah di tempat sampah yang telah disiapkan, salah satunya Wati (38). Wati yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional ini mengaku awalnya membuang sampah di tempat sampah yang telah dibuatnya–seperti anjuran aparat desa. Namun karena sampah mulai membusuk dan mengganggu warga lain serta tidak ada kejelasan sampah yang telah dibuang di tempat sampah akan diangkut oleh petugas sampah atau tidak, akhirnya Wati kembali membakar atau membuang sampah di pinggir laut seperti biasanya.

Urusan sampah memang salah satu urusan yang paling sering menjadi masalah di desa, seperti di Luaor, dimana Pemerintah Desa melarang warga membuang sampah di sungai atau laut tanpa memberikan solusi kemana warga harus membuang sampah. “Kalau bukan ke laut atau sungai, terus mau dibuang ke langit?” kira-kira begitulah kalimat yang sering menjadi protes warga kepada aparat desa yang melarang warga membuang sampah ke laut atau sungai tempa memberikan solusi yang jelas kemana warga harus membuag sampah.

Kembali ke kasus program tempat sampah PKK Kabupaten Majene. Pada praktiknya, pelaksanaan program ini tidak jarang aparat desa melakukan pemaksaan kepada keluarga kurang mampu dengan alasan warga yang tidak membuat tempat sampah tidak akan mendapatkan raskin (berasa miskin). Perlu diketahui, untuk pembuatan tempah sampah sesuai dengan pentunjuk aparat desa, setidaknya warga harus menguluarkan biaya 300 ribu sampai 500 ribu rupiah per tempat sampah. Tidak heran jika banyak warga yang kurang mampu merasa keberatan untuk membuat tempat sampah ini–yang pada akhirnya hanya menjadi sampah. Namun mereka tidak memiliki pilihan, takut tidak akan mendapatkan raskin lagi, warga tetap membuat tempat sampah.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Trending

Event Sulbar

There are no upcoming events at this time.

Iklan Potol.net
To Top