Connect with us

Mencari Solusi untuk Pusat Oleh-Oleh Majene

Sosial

Mencari Solusi untuk Pusat Oleh-Oleh Majene

Kami malu Pemda hanya dapat mempersembahkan spanduk oleh-oleh khas Mandar.

Jika ada yang bertanya ‘dimana tempat yang menjual oleh-oleh khas Mandar?’ kebanyakan dari kita mungkin akan menjawab tidak tahu. Tetapi jika ada yang bertanya ‘dimana pusat oleh-oleh khas Mandar?’ mungkin kita semua akan kompak menjawab di Lembang, di dekat SPBU Lembang.

Lucu memang, tempatnya–pusat oleh-oleh khas Mandar–sudah berdiri bertahun-tahun, tetapi tidak jelas oleh-oleh apa saja yang di jual di tempat ini dan buka kapan. Singkatnya, tempat yang diklaim pemerintah Majene ini sebagai pusat oleh-oleh khas Majene sehari-harinya terlihat kosong. Beberapa los terlihat sudah terisi lemari kaca yang biasa digunakan untuk menjual namun tidak jelas kapan los-los ini buka.

Sempat Buka Karena Porprov

Spanduk di depan Pusat Oleh-oleh Khas Mandar / Foto: Aswad

Yang menarik, ketika perhelatan olahraga Porprov Sulawesi Barat 2018 yang dilaksanakan di Majene, Pemda Majene memasang spanduk dengan kalimat ‘Suatu kebanggaan bagi kami dapat mempersembahkan oleh-oleh khas Mandar‘ yang ditempatkan di depan Pusat Oleh-oleh Khas Mandar. Pada spanduk terpampang dengan jelas foto dan nama ketua Dekranasda dan Diskoperindag Kab. Majene. Meski begitu, los yang buka hanya beberapa dari puluhan los yang ada di Pusat Oleh-Oleh Khas Mandar ini.

“Apa yang bisa dipersembahkan dari pusat oleh-oleh yang kosong seperti ini? Mungkin Pemda sedang melawak.” Tutur Izwar (22) mahasiswa Unsulbar. Ia berpendapat bahwa Pemda mungkin sedang melucu dengan memasang spanduk yang membanggakan pusat oleh-oleh yang kosong. Menurutnya Pemda mungkin sedang menghayal hingga membanggakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Cari Solusi Selain Spanduk Hayalan

Membahas pasar memang seperti membahas ayam dan telur. Apa yang lebih pertama muncul, ayam atau telur? Begitupun dengan pasar, apakah penjual dulu yang harus ada sebelum pembeli ataukah pembeli dulu yang harus ada lalu akan muncul pembeli?

Tak ada jawaban pasti. Yang jelas, pembeli oleh-oleh khas Mandar banyak dan penjual oleh-oleh khas Mandar pun sudah banyak. Tugas Pemda-lah sebagai pengelola Pusat Oleh-Oleh Khas Mandar mempertemukan penjual dan pembeli di tempat ini. Entah melalui kebijakan atau dengan cara apapun.

Permasalah pertama yang kita lihat dari Pusat Oleh-Oleh Khas Mandar adalah sedikitnya (kalau tidak ingin menyebut tidak ada) penjual oleh-oleh khas Mandar. Padahal kita ketahui di Majene, ada banyak produksi rumahan yang dapat menjadi oleh-oleh khas Mandar, mulai dari kuliner sampai kerajinan tangan.

Kurangnya penjual ini bisa berarti dua hal, yang pertama mungkin memang Pemda tak mendapatkan penjual oleh-oleh “yang memenuhi kriteria Pemda” untuk ditempat di Pasar Pusat Oleh-oleh ini, kriteria disini bisa banyak hal, mungkin (ini mungkin ya!) kriterianya harga/sewa los, ijin usaha, dll. Alasan kedua mungkin saja penjualnya sendiri tidak ingin menjual di tempat ini karena tidak melihat potensi pasar (pembeli) di tempat ini.

Apapun alasannya, Pemda seharusnya sadar bahwa di luar sana, di kota Majene maupun di desa banyak produsen rumahan yang sedang berjuang mencari pasar, mencari tempat untuk menjual produk mereka. Entah itu produk kuliner, seperti pupuk, dodol Mandar, golla kambu, dll. Jadi tidak seharusnya Pemda mengalami kesulitan untuk mencari produk untuk mengisi Pusat Oleh-oleh Khas Mandar ini.

Permasalah kedua yang paling sering menjadi masalah bagi pasar yaitu pengunjung. Bagaimana membawa pengunjung yang berpotensi membeli produk oleh-oleh khas Mandar masuk ke dalam pasar atau pusat oleh-oleh?

Sebagai Pemda, yang memiliki wewenang untuk mengembangkan peraturan daerah, bisa saja Pemda mengembangkan aturan baru untuk menghidupkan Pusat Oleh-oleh Khas Mandar ini. Entah itu aturan untuk pedagang/produsen oleh-oleh nya ataupun aturan untuk pembelinya.

Sedikit Ide

Anggap saja, pertama Pemda ingin membuat los-los yang ada di Pusat Oleh-oleh Khas Mandar penuh dengan produk-produk khas Mandar. Pemda melalui dinas yang mengelola pusat oleh-oleh ini dapat membuat kebijakan untuk membebaskan biaya pembelian atau sewa los pada tahun pertama sehingga menarik bagi produsen. Membentuk komunitas/kelompok produsen oleh-oleh dan memberikan pelatihan usaha, pendampingan, dan bantuan modal. Hal-hal seperti ini mungkin terkesan merugikan Pemda dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang jika berjalan dengan baik dapat menambah pundi-pundi PAD.

Untuk menarik pembeli, Pemda dapat membuat aturan baru yang mengharuskan semua kendaraan umum dari dan masuk Majene wajib singgah di pusat oleh-oleh ini. Sebagai pendukung, fasilitas umum seperti toilet dan musholla dalam pusat oleh-oleh harus diperbaiki, jika perlu, check point Dishub Majene dipindahkan ke tempat ini juga.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Trending

Event Sulbar

There are no upcoming events at this time.

Iklan Potol.net
To Top